Tampilkan postingan dengan label Sekitar Batam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekitar Batam. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 April 2009

MENAMBAH KETRAMPILAN DAN KEMAMPUAN BURUH DI BATAM

1 Mei sudah di ambang pintu. Hari buruh sudah akan kembali dirayakan. Sebagaimana biasa, nampaknya para buruh di Batam akan kembali menyuarakan tuntutan pemenuhan hak-hak mereka. Upah layak bisa jadi masih akan menjadi issue sentral. Penghapusan outsourcing dan karyawan kontrak mungkin juga masih akan mendominasi issue perayaan hari buruh tahun ini.

Berbicara Batam memang tidak akan pernah lepas dari issue buruh maupun issue pengusaha, kepentingan buruh dan kepentingan pengusaha. Daya tarik investasi di Batam saja seringkali dirangsang dengan jargon upah murah di Batam! Jadi, jangan salahkan siapapun kalau kemudian di Batam ternyata betul bahwa upah buruhnya murah, lah wong setingan awalnya memang demikian. Berbicara upah buruh di Batam, tentu akan membuat buruh, pengusaha dan pemerintah dipaksa untuk kembali memasuki forum diskusi yang panjang dan melelahkan.

Saya sih bingung saja, mengapa besaran upah selalu menjadi topik utama diskusi tahunan antara ketiga pihak tadi. Kenapa pengusaha tidak berpikir dan berusaha untuk bagaimana produksinya terus bertambah dan profit yang didapat juga semakin tinggi? Why buruh tidak menitikberatkan kepada kegiatan dan upaya menambah pengetahuan, ketrampilan dan kemampuannya sehingga mampu mengerjakan tugas yang diembannya sebaik-baiknya? Mengapa juga pemerintah tidak berusaha berada pada posisi tengah, mempermudah perijinan usaha, mengurangi biaya siluman, memberikan insentif pajak bagi pengusaha, di samping juga berupaya mengendalikan harga sembako, menyediakan transportasi dan perumahan murah, juga menyiapkan pendidikan dan kesehatan gratis bagi masyarakat pekerja?

Apa yang bisa dilakukan pengusaha untuk menjadikan pulau Batam sebagai ladang pertanian yang subur bagi usahanya, biarlah menjadi urusan pengusaha.

Apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk menjadikan pulau Batam sebagai surga bagi para investor dan para pekerjanya, biarlah menjadi urusan pemerintah.

Sebagai bagian dari pekerja, saya hanya ingin sekedar urun pendapat soal bagaimana baiknya pekerja itu berupaya.

Bagi saya simple saja, kalau memang upah yang lebih besar yang diinginkan, maka menambah ketrampilan dan menambah kemampuan sehingga dapat melaksanakan tugas dan menyelesaikan tanggungjawabnya sebagai pekerja adalah kuncinya.

Upah akan berbanding lurus dengan kinerja. Ketrampilan yang tinggi, kemampuan yang mumpuni bisa menjadi bekal yang cukup untuk mendapatkan upah yang lebih baik.

Untuk itu, kemampuan berbahasa asing, kemampuan berkomunikasi, kemampuan melakukan presentasi dan kemampuan menyelesaikan hal administratif mesti ditingkatkan. Kemampuan bekerjasama dalam tim dan kemampuan memimpin kudu terus diasah. Ketrampilan teknis di bidang elektronika dan mekanikal harus terus ditambah. Kursus welding, kursus elektrikal, kursus PLS, kursus pemrograman komputer, kursus mekanikal, kursus painting, kursus inspeksi mutu dan yang lainnya yang menunjang pekerjaan kita mesti dijadwalkan untuk diikuti.

Para pemimpin buruh mungkin bisa membantu anggota serikat pekerjanya untuk mendesak pemerintah menyediakan pendidikan atau kursus yang murah yang dapat diikuti oleh banyak pekerja. Pemerintah bisa didorong untuk mendayagunakan Balai Latihan Kerja. Pemerintah bisa juga diajak untuk menghidupkan Skill Development Center yang mungkin ada di Batam. Bahkan pemerintah bisa dimintai tolong untuk menghimbau swasta untuk menyelenggarakan program pendidikan dan kursus yang dapat meningkatkan ketrampilan dan kemampuan buruh di Batam. Para pengusaha bisa dimintai bantuan oleh pemerintah untuk menyumbangkan mesin-mesin produksi yang sudah tidak digunakan lagi untuk disumbangkan kepada lembaga-lembaga pendidikan ketrampilan untuk pekerja.

Kalau lembaga pendidikan ketrampilan pekerja menjamur, peralatan dan mesin-mesin untuk praktek pun semakin lengkap, dan para pekerja dapat mengikuti berbagai pendidikan dan kursus ketrampilan ini, bisa diyakini bahwa para pekerja di Batam akan sangat terampil. Ini berarti permasalahan produksi di pabrik sehari-hari akan jauh berkurang. Pada gilirannya nanti, produktifitas dan efisiensi akan sangat tinggi yang kemudian berpengaruh kepada profit yang tinggi bagi pengusaha. Ujung-ujungnya, tentu pengusaha tidak akan keberatan kalau upah diberikan sesuai dengan kebutuhan hidup layak.

Bagaimana menurut anda?

Senin, 29 September 2008

Senin, 04 Agustus 2008

No Action Talk Only? NO!

Percaya atau tidak, selalu saja ada orang yang mengomentari apa yang dilakukan orang lain, atau apa yang disampaikan orang lain.
Tak peduli apakah anda atau kawan anda yang benar, tak segan-segan mereka mencari kelemahan orang lain untuk kemudian dikritik.

Disadari atau tidak,
Komentar negatif selalu melemahkan semangat orang lain.
Kritik yang tidak membangun selalu melukai orang lain.
Prasangka buruk selalu meninggalkan luka di hati orang lain.

Mereka memang boleh ngomong apa saja di alam raya ini.
Mereka memang berhak menyampaikan pendapat berlawanan sekalipun.
Mereka memang bisa tidak setuju dengan apa yang dilakukan orang lain.

Tapi tahukah bahwa mereka takkan pernah sungguh-sungguh memenangkan semuanya.
Pasti mereka kehilangan sesuatu, paling tidak pengendalian diri mereka.

Ada pepatah yang mengatakan, bila dua ekor gajah bertarung, pelanduk kecil mati di
tengah-tengahnya. Namun, di kejauhan segerombolan burung pemakan bangkai yang cerdik menunggu dengan sabar kejatuhan salah satu gajah petarung.
Bahkan mungkin mereka juga menunggu kejatuhan pelanduk-pelanduk kecil.
Karena, burung pemakan bangkai mereka memang tak peduli pada siapa pun yang tersungkur.
Bagi mereka, dalam pertengkaran selalu ada peluang untuk dimanfaatkan. Maka,
secerdik-cerdiknya siapapun dalam memenangkan pertengkaran, jauh lebih cerdik jika
tenaga yang ada dihemat untuk memahami perbedaan.

Dalam sebuah tim yang bekerja bersama, perbedaan sangat mudah ditemukan.
Kritikan dan prasangka negatif juga tidak sulit dilontarkan begitu saja.
Tapi tak ada yang akan mengambil manfaat dari itu semua.
Malah, sakit hati dan perasaan sedih yang mungkin mengemuka.
Bahkan perasaan kecewa karena kerjanya tidak dihargai sangat mungkin ada.
Perkawanan akan menjadi korban.

Stop kritik yang tidak memberi solusi!
Stop prasangka negatif yang membuat orang lain sakit hati!
Stop banyak bicara tanpa kerja yang pasti!

Mari lakukan apa yang masing-masing dari kita bisa lakukan.
Mari berdiri pada posisi masing-masing.
Mari bekerja sesuai kemauan dan kemampuan masing-masing.

No Action Talk Only? NO!

Sabtu, 02 Agustus 2008

LAKUKAN, MESKI SEDERHANA

Mungkin anda jarang melakukan ini, tapi mari kita coba lakukan.
Melakukan hal yang sederhana. Hal yang sederhana tapi berguna.

Hari ini coba cari barang, yang menurut anda paling sepele, tidak perlu nyari di mall atau super market, cukup saja di rumah anda.
Mungkin anda bisa mulai dari tutup tube pasta gigi yang tak terpakai. Coba perhatikan bagaimana bentuknya. Anda akan temukan sebuah bentuk yang sangat menarik, ukuran yang pas dengan pegangan, desain yang mantap (pake p ya), dan dengan ulir di bagian dalam yang teliti dan tepat.
Pernahkah anda membayangkan, bahwa pasti ada seseorang yang berjam-jam, berhari-hari dan bermalam-malam memikirkan bagaimana merancang barang sekecil itu agar bisa digunakan? Pernahkah anda membayangkan juga, pasti ada orang lain yang berhari-hari bahkan berminggu-minggu menyiapkan cetakan, membuatnya, mengujinya sampai menghantarkannya ke hadapan anda?

Sebelum anda buang barang yang wujudnya tampak begitu sederhana, temukan sesuatu yang luar biasa yang menjadikannya terwujud dengan baik. Apakah itu, yaitu sebuah usaha keras manusia.
Usaha keras untuk menghadirkan barang yang bermanfaat bagi kemudahan dan kesejahteraan hidup kita. Usaha keras yang sebenarnya menjadi tugas utama kita pada sesama: menjadi sesuatu yang berguna, meski apa yang kita lakukan itu tampaknya begitu sederhana.

Hari ini coba cari sesuatu, yang menurut anda paling sepele, tidak perlu nyari di mall atau super market, cukup saja di sekitar anda. Tempat kerja anda, sekitar lokasi bermain anda, atau komunitas di mana anda biasa kongkow-kongkow.

Mungkin anda bisa mulai dari apa yang sedang menjadi tujuan bersama yaitu mempersiapkan sebuah kegiatan bersama. Coba perhatikan bagaimana kawan-kawan anda bergerak, mengambil posisi masing-masing dan bekerja sesuai kemampuannya. Ada yang meembuat proposal, ada yang mencari sponsor, ada yang membuat desain flyer, ada yang menyiapkan kaos, ada yang ngusulin desain id card, stand banner, dan lain-lain.
Anda akan temukan sesuatu hal yang sangat menarik, hal kecil yang pas dengan kemampuan masing-masing, desain yang mantab (kali ini pake b ya), dan dengan sentuhan dedikasi yang kuat yang nampak dari hasilnya.

Pernahkah anda membayangkan, bahwa pasti ada seseorang yang berjam-jam dan bermalam-malam memikirkan bagaimana melakukan itu semua?
Pernahkah anda membayangkan juga, pasti ada orang lain yang berhari-hari bahkan tidak tidur menyiapkan itu semua sehingga saat ini kelihatannya lancar-lancar saja?

Sebelum anda lupakan sesuatu yang wujudnya tampak begitu sederhana ini, temukan sesuatu yang luar biasa yang menjadikannya hal terbaik.
Apakah itu, yaitu sebuah usaha keras manusia. Usaha keras kawan-kawan anda.
Usaha keras untuk menghadirkan sesuatu yang bermanfaat bagi tujuan bersama.
Usaha keras yang sebenarnya menjadi tugas utama kita pada sesama: melakukan sesuatu yang berguna, meski apa yang kita lakukan itu tampaknya begitu sederhana.

Kamis, 03 April 2008

Siapa Yang Paling Bertanggung Jawab?

Harga sembako semakin mahal.
Tarif listrik dan air bakal naik (lagi).
Sementara gaji pekerja tetap segitu.
Dan, jalan-jalan tetap saja berlubang.
Banjir pun terjadi di mana-mana.
Belum lagi pendidikan yang semakin mahal.
Tapi, pemerintah cuma punya hajatan seremonial, peresmian ini peresmian itu.
Tak ada kemajuan berarti.
Anggota dewan pun tak bergigi.
Asyik dengan kunjungan kesana kemari, tanpa arti.
Ini salah siapa?

Kalau Anda ingin menyalahkan orang yang paling bertanggung jawab atas kegagalan pembangunan di Kota Batam, maka Anda bisa mulai dengan menyalahkan diri sendiri.
Kenapa demikian?
Karena Andalah sendiri yang mengambil keputusan untuk tidak melakukan apa-apa.
Dan untuk tidak menjadi apa-apa.
Ini bukan kesalahan Walikota. Ini salah Anda mengapa tidak jadi Walikota.
Ini bukan kesalahan anggota dewan. Ini salah Anda mengapa tidak jadi anggota dewan.
Ini bukan kesalahan Direktur PLN. Ini salah Anda mengapa tidak jadi Direktur PLN.
Ini bukan kesalahan Direktur ATB. Ini salah Anda mengapa tidak jadi Direktur ATB.
Ini semua karena Anda sendirilah yang memutuskan, mengambil keputusan dengan penuh kesadaran, untuk tidak menjadi siapa-siapa, untuk tidak melakukan apa-apa.

(Gambar dari sini)

Rabu, 02 April 2008

Saatnya bagi Pemimpin Muda

Setelah sekian lama menunggu, calon kepala daerah yang memiliki niat maju tanpa melalui partai, tetapi melalui jalur perseorangan boleh lega. Aturan yang ditunggu-tunggu yaitu hasil revisi kedua UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah akhirnya disahkan dalam rapat paripurna DPR kemarin (1/4).
Salah satu substansi yang sebelumnya menjadi bahan perdebatan yaitu komposisi syarat dukungan minimal bagi calon perseorangan akhirnya dapat disetujui yairu dalam rentang 3% sampai 6.5% untuk tingkat provinsi dan kabupaten kota disesuaikan dengan variasi jumlah penduduk.
Substansi lain yang termasuk krusial juga adalah syarat usia minimal calon yang akan maju dalam Pilkada. Kemarin disepakati bahwa seorang calon gubernur minimal berusia 30 tahun dan calon bupati/walikota adalah berusia 25 tahun.
Dua hal di atas tentu cukup melegakan bagi lahirnya suasana baru dalam kehidupan berdemokrasi di Indonesia.
Itu karena masyarakat jadi bisa memilih calon kepala daerah yang bukan dipilih oleh partai politik. Calon kepala daerah ini tidak perlu lagi memiliki kendaraan politik atau mendapatkan dukungan dari partai, ia tinggal mendapatkan dukungan langsung dari masyarakat sebanyak prosentase yang sudah diatur di atas.
Jadi misalnya penduduk yang memiki hak pilih sebanyak 500.000 jiwa di Kota Batam, maka ia tinggal mendapatkan dukungan sebesar misalnya 4% dari 500.000 atau sebanyak 20.000.
Bagi calon kepala daerah perseorangan yang didukung oleh kelompok masyarakat seperti perkumpulan2 kedaerahan yang banyak terbentuk di Batam seperti IKABSU, IKSB, Wargi Pasundan, Perkit atau organisasi kepemudaan seperti Perpat, LAM atau bahkan Pemuda Muhammadiyah atau HMI atau organisasi pekerja seperti SPSI dan SPMI dan sebagainya, mendapatkan dukungan sebanyak 20.000 tentu tidaklah terlalu sulit. Maka, ini bisa jadi peluang yang menarik.
Mereka yang tidak didukung oleh partai, tetapi didukung oleh masyarakat, bisa maju menjadi calon kepala daerah.
Peluang menarik lainnya adalah usia yang lebih muda untuk bisa menjadi calon kepala daerah. Maka, mereka para pemuda yang sudah dipercaya memimpin organisasi kepemudaan atau organisasi serikat pekerja juga memiliki kesempatan yang besar untuk dicalonkan sebagai kepala daerah.
Tinggal permasalahannya ada pada internal organisasi tersebut bagaimana memilih calon dari mereka.
Apakah kesempatan yang baik bagi tumbuh kembangnya demokrasi yang lebih baik ini bisa dimanfaatkan oleh kita bersama?

(Gambar dari sini)

Senin, 24 Maret 2008

Hadiah Terbaik

Membaca tulisan di Harian Tribun Batam berjudul "Banjir Masih Jadi Sorotan", ternyata permasalahan banjir, kerusakan jalan raya dan mahalnya harga sembako di Batam masih mendominasi pembicaraan di dalam Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Pemko Batam di Hotel Vista, Senin (24/3).

Tentu saja hal ini tidak terlalu mengagetkan. Di samping ini bukanlah masalah yang baru muncul, pada realitanya, 3 hal tersebut memang menjadi agenda pokok pembicaraan sehari-hari masyarakat Batam akhir-akhir ini.

Banjir yang selalu melanda hampir seluruh wilayah Batam sudah sangat mengkhawatirkan. Tidak hanya aktifitas harian yang terganggu, tetapi urusan produksi di kawasan industri pun bisa terganggu karenanya. Tidak hanya kenyamanan dalam tempat tinggal, tetapi kenyamanan berproduksi para investor pun terusik karenanya.

Kerusakan jalan raya bahkan bisa ditemui di mana-mana di sekeliling Batam. Jadinya, di samping memperlambat waktu untuk sampai tujuan, keselamatan jiwa juga terancam karenanya.

Yang lebih parah lagi adalah kenaikan harga sembako yang semakin mahal. Sembako yang menjadi kebutuhan pokok untuk menopang kehidupan sehari-hari semakin tak terbeli. Buruh yang selalu memeras keringat untuk mendapatkan upah layak semakin menjerit karenanya.

Belum lagi masalah lain seperti listrik dan air yang menambah panjang daftar permasalahan yang dimiliki Batam.
Mau dibawa kemana Batam ini?
Apakah Batam sebagai kota industri masih menarik untuk tempat tinggal dan tempat berinvestasi?

Kata-kata bijak mengatakan bahwa:
Hadiah terbaik kepada kawan adalah kesetiaan.
Hadiah terbaik kepada musuh adalah kemaafan.
Hadiah terbaik kepada yang muda adalah contoh terbaik.
Hadiah terbaik kepada yang tua adalah penghargaan budi mereka.
Hadiah terbaik kepada pasangan adalah cinta dan ketaatan.

Tahukah, apa hadiah terbaik kepada warga Kota Batam?
Penyelesaian masalah yang ada di masyarakat seperti banjir, jalan yang rusak, harga sembako, listrik, air dan sebagainya itu barangkali bisa menjadi HADIAH TERBAIK Pemko Batam bagi warganya.

(Gambar diambil dari sini)

Senin, 18 Februari 2008

Tidak Kompak ?

Prihatin saja membaca berita tentang kabar ketidakkompakan pemimpin Batam saat ini: Walikota Ahmad Dahlan dan Wakil Walikota Ria Saptarika sebagaimana berita Batam Pos.
Tidak hanya prihatin tetapi juga sedikit geregetan. Sekaligus tidak habis pikir, koq hal-hal seperti ini dibesar-besarkan.
Tidak kompak berarti tidak seia sekata. Atau berarti tidak sejalan. Bisa juga artinya berbeda pendapat, beda pandangan. Lebih jauh lagi bisa berarti beda tindakan, atau lebih parah lagi berbeda kebijakan.
Nah kalau yang tidak kompak itu adalah Wali dan Wawali, maka akhir cerita bisa jadi bakal tidak happy ending nantinya. Terutama pengaruhnya kepada pelaksanaan program kerja Pemko Batam. Dampaknya tentu bukan pembangunan yang semakin maju, infrastruktur yang makin lengkap, atau kesejahteraan masyarakat yang makin meningkat. Malah justeru sebaliknya. Ini yang membuat prihatin.
Seorang sahabat dekat pernah bercerita bagaimana dia selalu berbeda pendapat dan pandangan dengan isterinya dalam mengelola urusan rumah tangga dan home based business-nya. Dan seringkali mereka berdua berdebat sengit sewaktu sedang berdiskusi berdua, bahkan terkadang memukul meja. Tetapi mereka punya komitmen yang luar biasa yaitu boleh berbeda pendapat, boleh ngomong apa saja, boleh pakai argumentasi apa saja, dan sebagainya, selama berada di dalam ruangan diskusi yang hanya ada mereka berdua! Bahkan apa yang mereka ucapkan dan lakukan di dalam ruangan diskusi itu tidak boleh diceritakan kepada orang lain, bahkan anak-anak pun tidak perlu tahu.
Menariknya lagi mereka punya komitmen bahwa sebesar-besarnya perbedaan pendapat, perbedaan itu TIDAK BOLEH memecah kebersamaan yang ada. Tidak boleh ada kata-kata berpisah, atau bahkan bercerai yang boleh keluar dari mulut mereka. Bahkan secuil niat untuk tidak lagi bersama, mereka haramkan. Mereka berpegang teguh kepada niat awal mereka dulu, serta janji yang pernah diucapkan pada saat akad nikah bahwa mereka akan selalu bersama. Bersama membangun rumah tangga, mendidik anak-anak, menuju cita-cita mencapai keluarga yang sakinah mawahdah warahmah.
Jadi, didalam boleh ramai tetapi di depan anak-anak, di luar rumah, yang tampak oleh tetangga dan kerabat adalah mereka berdua yang selalu kompak, seia sekata, saling mendukung, begitu harmonis, dan begitu romantis.
Andaikan pak Dahlan dan pak Ria selalu berpegang teguh kepada kesepakatan yang pernah mereka niatkan bersama dulu, barangkali penulis tidak perlu merasa prihatin.
Semoga.

(foto di-crop dari situs Pemko Batam di http://www.pemko-batam.go.id/index.htm)

Minggu, 17 Februari 2008

Pantang Mundur

"Apakah mungkin untuk melewati jalan ini?" tanya Napoleon
kepada para insinyur yang dikirim untuk menyelediki terusan
St. Bernard yang menakutkan itu.

"Barangkali, bukannya tidak mungkin," jawab mereka dalam nada
ragu-ragu.

"Tempuh saja!" jawab Napoleon tanpa menghiraukan kesukaran-
kesukaran yang hampir tak teratasi. Inggris dan Austria
menertawakan keputusan Napoleon untuk menggerakkan tentara
melintasi pegunungan Alpen.

Tak pernah ada orang yang bisa, apalagi dengan membawa 60.000
tentara, dilengkapi dengan meriam-meriam besar, berpeti-peti
peluru, dan barang dalam jumlah besar.

Akan tetapi ketika tindakan yang "mustahil" itu selesai,
orang-orang sekonyong-konyong tahu bahwa hal itu memang bisa
dilakukan dari dulu. Yang diperlukan hanyalah keberanian dan
tekad seperti Napoleon.

Dia tidak pernah gentar menghadapi segala rintangan itu. Dan
ia mengambil kesempatan itu.

Batam telah berubah, dari sebuah pulau terpencil, sepi, sunyi, kini batam menjelma sebagai sebuah raksasa industri (meminjam bahasanya mas Nunung).
Tetapi hidup di Batam, kini tidaklah seindah sebagaimana yang dibayangkan awalnya.
Harga bahan kebutuhan pokok yang melambung tinggi.
Perumahan yang semakin tidak terjangkau.
Juga sulitnya mendapatkan transportasi yang murah dan aman.
Adalah contoh segudang masalah yang dimiliki Batam.
Belum lagi masalah kemudahan mendapatkan pekerjaan, fasilitas kesehatan, pendidikan, dan sebagainya.

Nampak seperti "mustahil" untuk membangun Batam sebagaimana dicita-citakan.
Namun bila Batam memiliki pemimpin
yang berani untuk melakukan perubahan, yang tidak pernah gentar menghadapi segala rintangan, Insya Allah hal yang mustahil akan menjadi mungkin.
Yang diperlukan hanyalah keberanian dan tekad seperti Napoleon.

(foto diambil dari
www.neowin.net)

Senin, 11 Februari 2008

Listrik Mati (Lagi)

Minggu siang 10 Pebruari 2008 di perumahan legenda malaka aliran listrik kembali padam. Setelah membaca koran baru diketahui bahwa pemadaman listrik terjadi akibat gangguan teknis pada Gardu Hubung Baloi yang menuju PLTD Baloi. Akibatnya pasokan listrik tergganggu. Untuk gangguan ini PLN Batam melalui Humasnya, Dony Hermawan (lagi-lagi hanya) memohon maaf atas ketidaknyamanan yang sempat timbul selama gangguan terjadi.
Di Jepang, apabila terjadi gangguan yang menyebabkan kenyamanan pelanggan ataupun masyarakat banyak menjadi terusik, pimpinan tertinggi perusahaan penyedia layanan tersebut akan meminta maaf di depan publik yang diliput oleh jaringan media massa dengan cara yang amat simpatik. Dengan berdiri tegak mereka akan meminta maaf dengan bahasa yang paling sopan dan kemudian membungkukkan badannya pun dengan tingakatan yang amat sopan. Kemudian mereka akan menjelaskan penyebab gangguan dengan detail dan akibat yang terjadi. Juga langkah-langkah yang akan diambil kemudian sebagai bentuk tanggungjawabnya, termasuk langkah perbaikan untuk mencegah terulangnya kembali hal tersebut. Dengan demikian, masyarakat umum akan bersimpati dan kemudian memaklumi kejadian tersebut.
Budaya malu adalah yang melatarbelakangi mengapa mereka bersikap demikian, sebuah
budaya leluhur dan turun temurun dari bangsa Jepang. Masih ingat ritual sejak era samurai yang bernama Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) ketika mereka kalah dalam pertempuran. Saat ini ritual harakiri memang sudah mulai berubah. Memasuki dunia modern, muncul fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat publik (menteri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka tidak dapat menyediakan layanan publik dengan baik, mengganggu atau bahkan merugikan orang banyak, melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.
Andaikan budaya malu menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia, alangkah indahnya. Tentu akan membuat hidup lebih hidup!