Tampilkan postingan dengan label Sekitar Saya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekitar Saya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 April 2009

Merilis Produk Baru

Kalau kita mau belajar dari perusahaan-perusahaan besar yang membuat dan memasarkan produk-produk yang bisa langsung dipakai oleh masyarakat, maka ada satu hal menarik yang selalu dilakukan oleh mereka, yaitu melepas produk-produk baru secara berkala. Dengan kehadiran produk baru, pasar yang mulai memasuki grafik penjualan yang menurun akan dinaikkan kembali oleh grafik penjualan produk baru sehingga bila grafik penjualan berbentuk parabola dari beberapa produk itu dijajarkan maka akan menyerupai bentuk gunung yang berjajar. Artinya, pendapatan yang mulai menurun dari hasil penjualan produk yang sekarang akan dinaikkan kembali oleh hasil penjualan produk baru.
Mengapa kita mesti menyiapkan dan melepas produk baru? Tentu kita semua bisa memahami bahwa umur suatu produk adalah terbatas, tidak selamanya sebuah produk bisa dipertahankan pada posisi puncak penjualannya. Sebuah handphone misalnya, walaupun sebuah model sempat booming pada peluncuran perdananya, tentu suatu saat penjualannya akan menurun bila produk baru dengan fitur yang lebih baik telah muncul dan dilepas ke pasar. Begitu pula dengan sebuah restoran cepat saji, ia pun selalu harus berusaha membuat menu baru walau hanya berubah pada rasa atau bahkan pada cara memasaknya.
Contoh lain adalah sebuah toko yang menyediakan berbagai souvenir, tentu akan mengalami kesulitan menambah penjualan kalau tidak berupaya menambah varian souvenirnya. Jangan-jangan, pelanggan akan berkomentar: ”Itu lagi, itu lagi, bosan ah”... Sebuah kedai yang menjual beraneka ragam jenis pakaian, tentu juga harus konsisten meng-update model-modelnya kalau tidak mau dibilang ketinggalan jaman. Bahkan sebuah usaha bakery sekalipun, menurut hemat saya perlu untuk membuat terobosan-terobosan baru pada produknya. Bermacam terobosan seperti variasi warna, variasi bentuk dan variasi rasa nampaknya perlu dicoba, diteliti dan dikembangkan.
Berikut ini adalah beberapa langkah kecil yang perlu dilakukan sebelum kita merilis produk baru ke pasar.
Pertama, pelajari tren pasar saat ini atau apa yang diinginkan pasar. Lihat parameter bentuk, warna, ukuran, jumlah, rasa, packaging (bungkusnya), bahan baku dan sebagainya, kemudian kembangkan berbagai varian dari parameter tersebut. Tentukan dan buat produk baru dari hasil pengembangan beberapa parameter tadi.
Kedua, pastikan ketersedian pasokan bahan baku. Karena kalau produk baru sudah dilepas ternyata mendapat tanggapan yang bagus dari pasar, maka kelangsungan pasokan produk baru mesti bisa dijaga. Untuk ini, akan lebih baik bila supplier pemasok bahan baku bisa lebih dari satu.
Ketiga, hitung biaya yang muncul untuk merilis produk baru ini yang meliputi biaya material atau bahan baku maupun biaya penambahan tenaga kerja ataupun pengadaan mesin baru bila ada. Tentukan juga berapa besar margin yang akan diperoleh dari setiap satuan produk baru ini. Dengan demikian, berapa modal yang diperlukan dan berapa lama akan kembali bisa diprediksi.
Keempat, siapkan promosi yang mengguncang pasar. Gunakan bahasa-bahasa iklan yang mengundang perhatian. Bila menggunakan media koran, brosur atau spanduk, minta kepada desainernya untuk membuat desain iklan dengan ide yang paling ciamik.
Kelima, lakukan sekarang juga. Mulai dari perubahan yang kecil tetapi memberikan nuansa baru dari produk Anda. Dan lakukan oleh Anda sendiri.
Semoga berhasil.

Jumat, 06 Maret 2009

BERWIRAUSAHA ITU SEPERTI MASUK TOILET

Lima tahun lalu, saya yang masih asyik bekerja di sebuah perusahaan elektonik Jepang di Mukakuning ditawari untuk bergabung mengelola usaha yang dilakukan seorang teman di bidang kelistrikan. Walaupun berlatarbelakang teknik, saya merasa kurang sreg keluar dari zona kenyamanan sebagai seorang karyawan berpangkat Asisten Manajer itu.

Tahun lalu, teman saya itu kembali melemparkan ide untuk membuat sebuah badan hukum PT dan meminta saya mengelola perusahaan patungan tersebut. Saya yang saat itu baru pindah kerja sebagai seorang Manajer Engineering di sebuah perusahaan elektronik di kawasan Panbil akhirnya mengiyakan tetapi tetap saja merasa kurang sreg untuk berpindah kuadran ini. Saya pikir, saya mau menjalankan usaha apa, lha wong tidak tahu situasi di luar sana. Pertanyaan seperti: apa saya bisa melakukan usaha? Kalau perlu modal besar, uang dari mana? Terus berkecamuk mengganggu tidur saya. Namun saya tetap mempertimbangkannya. Dan setelah dipikir cukup lama, juga diskusi cukup dalam dengan orang rumah, dengan disertai pikiran ragu dan berat hati, akhirnya saya memberanikan diri untuk resign dari perusahaan yang baru 2 bulan saya masuki itu dan saya setuju untuk mengelola perusahaan patungan itu. Tetapi karena masih khawatir dengan penghasilan yang diperoleh dari usaha bersama teman saya itu, pada saat yang bersamaan, saya juga membeli sebuah usaha waralaba di bidang pembuatan souvenir pribadi dengan teknik digital printing yang saya dirikan di salah satu ruko di Panbil.

Memulai usaha sendiri ternyata bukanlah hal yang mudah. Walaupun kantor sudah ada, modal sudah ada, dan orang sudah ada, tetapi kalau order tidak ada, semua yang disebutkan tadi menjadi tak berguna. Tahukah anda bahwa ernyata teman saya menyerahkan semua urusan usaha kepada saya. Mau usaha di bidang apa saja terserah. Tak ada spesialisasi lah. “Pokoknya ada order apa, embat saja”, katanya. Tentu ini membuat saya tambah bingung.

Satu bulan saya mengelola perusahaan itu, tak ada order satu pun, dua bulan ke sana kemari juga belum ada order. Bulan ketiga dan keempat juga sama, nol besar. Lha wong mau menawarkan diri masuk perusahaan masih malu. Yang ditawarkan juga tidak jelas. Kondisi ini terus berjalan hingga bulan ke bulan-bulan selanjutnya. Bersamaan dengan itu, usaha souvenir pribadi saya yang menyediakan produk mug, jam dinding, jam keramik, pin aneka ukuran, gantungan kunci, id-card, mouse pad, dan kaos yang bisa diberi tulisan dan gambar si pemesan pun mulai berjalan. Pendapatannya memuaskan? Tentu tidak! Walaupun sudah mendapatkan order, tetapi hanya baru bisa menutupi biaya operasional, sewa tempat dan gaji karyawan. Repot nih. Di perusahaan saya belum ambil gaji, di kedai souvenir juga belum bisa ambil uang. Wah, bisa gawat! Tidak lama lagi, ibunya anak-anak pasti akan mulai berkicau.

“Kalau mau mulai usaha itu, jangan terlalu banyak dipikir. Pakai otak kanan, lakukan saja, pikir kemudian. Ibarat orang mau masuk toilet, kalau sudah kebelet ya masuk saja ke toilet, tutup pintu, langsung buang air. Permasalahan kemudian ternyata tidak ada handuk atau perlu sabun, kan bisa minta tolong isteri untuk mengambilkan”, demikian yang saya dengar dari Purdi E Chandra, gurunya wirausahawan Indonesia, pada sebuah Seminar Cara Gila Jadi Pengusaha yang diadakan di Batam waktu itu. Mendengar ini, tentu saya tertegun, dan mencoba merenungkan maksudnya.

Dulu, di awal permulaan menjalankan kedai souvenir, kalau ada yang minta di luar produk yang tersedia maka saya akan menolak dan mengatakan tidak ada atau tidak bisa. Sekarang tidak lagi bro! Dengan semangat saya akan bilang ya, ada, saya akan buatkan segera, dan kemudian saya akan berusaha mencari orang yang bisa membuatnya. Kalau di Batam tidak bisa, saya cari di Jakarta. Dengan cara ini, ternyata omset souvenir saya terus bertambah. Saudara-saudara, dari sini saya belajar bagaimana berani optimis dengan bisnis orang lain (BOBOL).

Bagaimana nasib perusahaan kami? Saya akhirnya lebih berani menawarkan jasa apa saja, mulai mekanikal, elektrikal, bahkan sipil juga bisa. Mau rental alat berat oke, minta jasa rekrutmen oke, training ayo, supply spare part juga ada. Apa saja, yang penting halal. Perkara bisa mengerjakan atau tidak, itu urusan belakang. Jalan ke sana kemari, ke Tancung Uncang sampai Batu Ampar bahkan sampai Kabil sudah tak menjadi masalah. Ketemu teman lama, menjadi pekerjaan sehari-hari, dalam rangka menyambung silaturahmi dan mencari rejeki!

Saudara-saudara, tak dinyana, order spare part seharga 200-an juta datang. Separuh lebih modal bukanlah uang saya! Dari sini, saya belajar berani optimis dengan duit orang lain (BODOL). Kemudian dapat pekerjaan pembuatan plang papan nama besar 3x8 meter. Dikerjain sendiri? Ofcourse not! Saya kasih tukang teralis buat mengerjakan. Dari sini saya belajar berani optimis dengan tenaga orang lain (BOTOL). Pekerjaan membuat taman di sebuah komplek perumahan pun sudah di depan mata. Tentu bukan saya yang bekerja menyiapkan tanah subur dan berbagai tanaman itu. Order perawatan 26 ruko, insya allah bisa segera disetujui.

Saudara-saudara, keberanian telah membuat suasana yang berbeda! Saya mendapatkan teman-teman di luar sana yang bisa diajak bekerja bersama, dan bisa dimintai tolong modal dengan sistem bagi hasil. Ada orang yang bisa kerja, tapi tak ada order. Ada orang yang punya uang, tapi tidak tahu bagaimana menggunakannya. Keberanian memakai otak kanan terbukti mendatangkan hasil. Saudara-saudara, itu semua didapat setelah berprinsip bahwa berwirausaha itu ibarat masuk toilet! Berani mencoba?

Senin, 03 November 2008

Mengambil Hikmah dari Semut

Memulai usaha sendiri, ternyata tidak mudah.
Mengawali segala sesuatu dari diri sendiri, ternyata cukup melelahkan.
Mendapatkan penghasilan dari apa yang dilakukan oleh diri sendiri, ternyata bukanlah hal yang sederhana.

Kalau dulu sewaktu masih bekerja di parik, semuanya sudah ada.
Orang ada, mesin ada, bahan baku pun tersedia, order? banyak.
Karena sudah ada order, sudah ada production planning, bagian produksi tinggal produksi aja.
Ingin melakukan re-dessign, paling cukup meminta para engineer untuk melakukannya.
Mau mencoba material baru, kita tinggal minta bagian purchasing untuk cari material.
Kalau ada perbaikan proses, paling-paling cuma ngumpulin team, bicarakan teknisnya, atur jadwal, monitoring, evaluasi.

Tapi sekarang, itu tak lagi bisa dilakukan.
Memiliki usaha sendiri walaupun sekecil ukuran kamar kos anak mahasiswa, tidaklah bisa dipandang sebelah mata.
Mesin-mesin produksi juga sebenarnya tidak gede-gede amat, tidak susah-susah amat.
Yang susah adalah mencari orderan bro!
Soalnya, tak ada orderan berarti tak ada kerja.
Tak ada kerja berarti tak ada pengiriman barang.
Tak ada pengiriman berarti tak ada pemasukan.
Tak ada pemasukan berarti ya tak bisa makan lah...!

Belum lagi masalah tenaga kerja.
Dulu, semuanya sudah ada, team kerja juga lengkap.
Sekarang? Lebih dari sekedar one for all, all for one.
Lebih dari sekedar satu orang ngerjain semuanya, atau semuanya dikerjain satu orang bro!

Menghadapi situasi sulit ini, hampir menangis memang...
Hampir terpuruk dalam kesedihan...
Tapi kemudian ingat tulisan yang amat bermakna tentang semut.
Mengingatkan untuk tetap tegar menghadapi ini semua.

Rekan,
Dari semut, manusia hendaknya bisa mengambil hikmah tentang kehidupan.
Dari semut yang amat mulia ini, ada hikmah yang harus diambil.

Saking mulianya makhluk ini, pernah suatu waktu Raja Daud berpesan kepada puteranya,” Anakku jika engkau nanti menjadi seorang raja yang akan memimpin bangsamu, ajaklah rakyatmu belajar dari para semut." Bahkan Muhammad SAW tokoh terbesar dalam sejarah peradaban manusia mengapresiasikan kekagumannya dalam sabdanya : “Belajarlah dari semut, kesabaran, pengorbanan dan fidaa’.”

Semut ngajarin kita untuk:
- Bertekad Tekad Pantang Menyerah
Lihatlah gerak-gerik semut dalam kesehariannya. Cobalah halangi laju jalannya dengan batu misalnya. Akankah dia berhenti dan pulang begitu saja? Tentu tidak, dia akan tetap berusaha mungkin mendaki batu tersebut atau berputar mencari jalan sendiri.
Konsep “winner never quit and quitter never win” benar-benar diterapkan. Tidak pernah kita melihat putus asa saat kita halang-halangi jalannya. Bahkan dia siap bertempur hingga tetes darah penghabisan guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Semut adalah tipe pekerja, yang tiada kenal lelah bekerja mengumpulkan makanan sebagai bekal pada musim dingin. Tidak pernah sekalipun dia mangkir dari pekerjaan walaupun tidak ada satu semut yang mensupervisinya. Semua sadar, bahwa mereka harus bekerja dengan keras untuk kepentingan bersama.

- Perencanaan yang baik
Semut adalah binatang yang sangat bijaksana dan mampu mengendalikan diri. Mereka menyadari bahwa untuk segala sesuatu ada waktunya. Mereka menyadari ada kalanya harus bekerja keras untuk mengumpulkan makanan dan ada waktunya untuk beristirahat. Ketika masa untuk bekerja datang, mereka akan menggunakannya untuk mengumpulkan bekal makanan. Karena mereka sadar ketika musim dingin tiba, mereka akan dapat beristirahat di dalam sarangnya yang hangat, dan penuh berkecukupan makanan.
Semut sangat jeli mengatur kepentingan dan kebutuhan mereka sendiri. Pernah sebagai utusan Tuhan, Sulaiman yang diberi kelebihan untuk berkomunikasi dengan semut melakukan “eksperimen” dengan meletakkan seekor semut dalam sebuah botol dan memintanya berapa banyak makanan yang dibutuhkan untuk bertahan. Si semut menjawab dua butir, maka dia memberikan dua butir, setelah satu tahun semut hanya memakan satu butir.
Sulaiman bertanya kepadanya mengapa tidak menghabiskan semua makanan tersebut? Semut menjawab, ketika dia berjalan karena Allah, dia mengetahui bahwa Allah tidak akan melupakannya, tetapi ketika Sulaiman memberikan makanan, dia mengetahui bahwa dia adalah manusia dan mungkin lupa – maka dia memakan satu butir dan meninggalkan yang lainnya untuk tahun berikutnya.

- Kerjasama team yang rapi
Semut tidak pernah bekerja untuk dirinya sendiri, mereka bekerja untuk tim. Kalau mendapatkan makanan yang ukurannya cocok bagi tubuhnya, biasanya semut membawanya sendirian. Kalau ukuran makanan terlalu besar atau kalau semut menemukan beberapa gundukan kecil makanan di suatu daerah, mereka mengeluarkan hormon beracun untuk mencegah semut lain agar tidak menghampiri daerahnya. Kemudian, mereka memanggil para pekerja lain, besar maupun kecil, untuk bersama-sama mengangkut makanan.
Dalam kehidupannya, semut juga mengenal pembagian tugas yang sangat sempurna. Semut besar memotong-motong makanan dan menjaganya dari hewan-hewan asing, sementara semut kecil membawa pulang makanan.
Berdasarkan pengamatan, ditemukan bahwa jika semut bekerja sama, mereka dapat mengangkat beban seberat 5000 kali berat yang dapat diangkat seekor semut pekerja. Seratus ekor semut dapat membawa seekor cacing besar di atas tanah dan bergerak dengan kecepatan 0,4 cm per detik.

Yuk ah belajar dari semut guna mencapai kesuksesan hidup.

(Sebagian tulisan di atas adalah tulisan Ahmad Arwani)

Sabtu, 18 Oktober 2008

Simpan Yang Perlu Saja!

Pindahan rumah.
Ini sudah yang ke beberapa kali, saya mesti pindah rumah, sejak tinggal di Batam.
Tentu saja tak pernah bosan, apalagi kali ini, pindah ke rumah sendiri.

Pindahan rumah.
Tentu yang paling repot adalah membawa barang2 yang akan dipakai di rumah baru.
Untuk itu, barang2 mesti dipilih.
Yang masih akan dipakai, disiapkan untuk dibawa.
Yang tidak akan dipakai, siap2 untuk dibuang.

Pindahan rumah.
Walah, ternyata di dalam rumah itu banyak banget ditemukan barang2 yang sudah tidak perlu lagi dipakai. Yang sebenarnya ndak ada lagi fungsinya.
Hanya karena waktu itu masih merasa sayang, ya akhirnya disimpan.
Mungkin waktu itu berpikir suatu saat akan bisa dipakai, jadi ya main taruh aja.

Pindahan rumah.
Apa yang terjadi?
RUmah nampak seperti gudang.
Makanya koq terasa sempit kali itu rumah.
Rupanya banyak barang yang tak perlu lagi.

Pindahan rumah.
Coba pengalaman menerapkan 5S di pabrik diterapkan juga di rumah.
Barangkali rumah akan terasa nyaman.
Mungkin akan betah berlama-lama di rumah.

Pindahan rumah.
Ambil saja yang perlu.
Buang yang tidak perlu.
Mari, pindah rumah dengan riang gembira...

Sabtu, 11 Oktober 2008

Do it yourself!


Jika kamu ingin sesuatu dilakukan dengan baik, lakukanlah sendiri!

If you want a thing well done, do it yourself!

Rabu, 24 September 2008

KELEDAI BODOH

Saya bingung ajah...
Bingung melihat mereka yang masih saja tidak mau belajar dari kesalahan.
Kesalahan yang dilakukan pada saat proses produksi, tentu mengakibatkan produk rusak. Biasa kan.
Bila terjadi produk rusak, tentu tak bisa dijual.
Bila tak bisa jual, tentu tak ada pemasukan.
Bila tak ada pemasukan, tentu tak dapat gajian.
Rasanya sesimpel itu kan urut-urutannya?

Namun, masih saja mereka melakukan kesalahan.
Anehnya ini bukan kesalahan baru, tapi kesalahan yang pernah dilakukan itu terulang kembali.
Eh bukan, tepatnya dilakukan kembali.
Ini bukannya tak disengaja, tapi mereka yang ceroboh, tidak mau memperhatikan tata cara berproduksi yang semestinya.
Sederhana banget.

Kata orang bijak: hanya keledai bodohlah yang terperosok pada lubang yang sama dua kali.
Jadi, kalau tidak mau dibilang keledai bodoh, tentunya tidak perlu melakukan kesalahan yang sama dua kali, bahkan lebih. Betul tak?

Barangkali kalau kita mau menyiapkan bahan dan peralatannya dengan baik,
Barangkali kalau kita mau melakukan sesuatu dengan urut-urutan yang sesuai,
Barangkali kalau kita mau melakukannya dengan tata cara yang benar,
Barangkali kalau kita mau memperhatikan kesalahan yang pernah dibuat,
Semuanya akan berbeda.
Tak ada lagi produk rusak.
Tak ada lagi biaya yang terbuang.
Tak ada lagi hal percuma.
Dan tak ada lagi yang namanya keledai bodoh itu!

Jumat, 19 September 2008

BELAJAR DARI SOCRATES

Kedukaan bisa datang dari ucapan yang tidak direncanakan, atau
telinga yang lupa menutup diri. Saya sering mengalami ini. Berbincang
dengan rekan-rekan, saling melempar canda, lalu, dari saling cerita
itu, duka bisa diam-diam menyelinap, ketersinggungan pun muncul tiba-tiba.
Dan luka datang tanpa dipanggil.

******

Suatu pagi, seorang pria mendatangi Sokrates, dan dia
berkata, "Tahukah Anda apa yang baru saja saya dengar mengenai salah
seorang teman Anda?"

"Tunggu sebentar," jawab socrates. "Sebelum memberitahukan saya
sesuatu, saya ingin Anda melewati sebuah ujian kecil. ujian tersebut
dinamakan saringan tiga kali."

"Saringan tiga kali?" tanya pria tersebut.

"Betul," lanjut Socrates. "Sebelum Anda mengatakan kepada saya
mengenai teman saya, mungkin merupakan hal yang bagus bagi kita untuk
menyediakan waktu sejenak dan menyaring apa yang akan Anda katakan.
Itulah kenapa saya sebut sebagai saringan tiga kali.

"Saringan yang pertama adalah `kebenaran`. Sudah pastikah bahwa
apa yang anda akan katakan kepada saya adalah kepastian kebenaran?"

"Tidak," kata pria tersebut, "Sesungguhnya saya baru saja
mendengarnya dan ingin memberitahukannya kepada Anda".

"Baiklah," kata Socrates. "Jadi Anda sungguh tidak tahu apakah hal
itu benar atau tidak. Hmm... sekarang mari kita coba saringan kedua
yaitu `kebaikan`. Apakah yang akan Anda katakan kepada saya mengenai
teman saya adalah sesuatu yang baik?"

"Tidak, sebaliknya, mengenai hal yang buruk".

"Jadi," lanjut Socrates, "Anda ingin mengatakan kepada saya sesuatu
yang buruk mengenai dia, tetapi Anda tidak yakin kalau itu benar.
hmmm... Baiklah Anda mungkin masih bisa lulus ujian selanjutnya,
yaitu `kegunaan`. Apakah yang Anda ingin beritahukan kepada saya
tentang teman saya tersebut akan berguna buat saya?"

"Tidak, sungguh tidak," jawab pria tersebut.

"Kalau begitu," simpul Socrates, "Jika apa yang Anda ingin
beritahukan kepada saya... tidak benar, tidak juga baik, bahkan tidak
berguna untuk saya, kenapa ingin menceritakan kepada saya?"

(Cerita socrates tadi di-copy paste dari sebuah email yg dikirim oleh tukangnt@***.com)

Kamis, 18 September 2008

ORANG BRENGSEK IMAM SEJATI

Dalam kesempatan membaca email dari sebuah milis, saya sempat membaca sebuah email
yang memuat tulisan dari Gde Prama. Tulisan itu memberi saya inspirasi untuk
menurunkan tulisan kali ini.

Cerita Gde Prama, pada suatu saat Bank Indonesia pernah amat senang mengundang Gde Prama
untuk menyampaikan presentasi mengenai Dealing With Difficult People, sebuah sesi dimana
Gde mencoba mengupas bagaimana menjauhkan dan membebaskan diri dari manusia-manusia sulit
yang memiliki karakter seperti keras kepala, suka menang sendiri, tidak mau bekerja sama,
tidak peduli dengan kepentingan orang banyak, dan lain-lain.
Menurut Gde, banyak di antara kita yang merasa bukan bagian dari manusia sulit, justeru
orang di luar sana lah yang termasuk golongan orang sulit. Dengan mudahnya,
menganggap orang lain sebagai biang masalah.
Padahal menurut Gde, ada baiknya membersihkan kacamata kita terlebih dahulu sebelum
melihat orang lain.
Kalau tidak sadar dengan kotornya kacamata kita, orang lain memang akan sangat mudah
dipandang kotor.
Seorang pemimpin, sebelum menyebut orang lain sulit diatur, pastikan terlebih dulu kalau
bukan dirinya yang tidak mampu mengatur.
Seorang imam yang keras kepala, maka orang lain berbeda pendapat sedikitpun akan dianggapnya
orang yang sulit.
Imam yang mudah tersinggung, melihat orang yang sedikit senyum saja sudah akan membuatnya
kesal.

Gde menyatakan bahwa manusia-manusia super sulit pada hakekatnya adalah guru terbaik kita.
Dari mereka kita bisa belajar banyak. Mengapa begitu?

Pertama, manusia super sulit seringkali mengajari kita dengan cara menunjukkan betapa
menjengkelkannya mereka.
Bayangkan saja, manakala orang ramai berdiskusi menyatukan pendapat, mencari berbagai
argumentasi untuk mendapatkan jalan keluar terbaik, ia mau menang sendiri.
Manakala orang belajar melihat dari segi positif, ia malah mencaci dan menghina orang lain.
Tetapi, ambil saja hikmahnya, saat bertemu dengan mereka ini, sebenarnya kita sedang diingatkan
untuk tidak berperilaku seperti mereka.

Kedua, manusia super sulit adalah sparring partner dalam membuat kita menjadi orang sabar.
Difficult people ini sering kali membuat panas kepala, mengurut-urut dada, bahkan menarik
nafas panjang, yang itu semua bisa diartikan tubuh dan jiwa kita ditarik menjadi lebih sabar.
Kepalan tangan yang awalnya sakit pada saat melakukan push-up, lambat laun apabila kita terus
melakukannya, maka rasa sakit akan tidak lagi terasa, kita semakin kebal.

Ketiga, manusia super sulit sering mendidik kita jadi pemimpin jempolan. Semakin
sering dan semakin banyak kita memimpin dan dipimpin manusia sulit, ia akan
menjadi Universitas Kesulitan yang mengagumkan daya kontribusinya.
Pengalaman memimpin dan dipimpin oleh difficult people, telah membuat banyak orang menjadi
pemimpin yang disegani.
Bukan tidak mungkin kita bakal menjadi pemimpin yang jauh lebih asertif setelah dipimpin
oleh imam yang amat keras dan diktator.

Akhirnya, penting untuk disadari bahwa manusia super sulit sebenarnya dapat
menunjukkan jalan ke surga, serta mendoakan kita masuk surga.
Karena, seandainya kita berhasil membalas hukuman dengan kesabaran, melawan hinaan dengan senyuman,
kiriman batu dibalas dengan kiriman bunga, bau busuk digantikan dengan bau harum,
kepentingan pribadi dihadapi dengan kepentingan bersama, bukankah kemungkinan masuk surga menjadi lebih tinggi ?

Kalau kita mau meyakini bahwa setiap orang yang kita temui dalam hidup adalah guru
kehidupan, maka guru terbaik kita sebenarnya adalah manusia-manusia super sulit, difficult people,
pemimpin yang otoriter itu, dan imam yang suka kentut di depan orang banyak itu .

Rabu, 27 Agustus 2008

PEMIMPIN DAN PERSAHABATAN

Dunia telah mengajari kita bahwa kita tak mungkin hidup sendiri.
Dunia telah memberi bukti bahwa tak ada keberhasilan tanpa bantuan orang lain.
Sehingga, menjadi tugas kita untuk hidup bermasyarakat.
Dan menjadi tugas seorang pemimpin untuk mengembangkan persahabatan yang tulus dan mulia.
Karena, tak ada yang mampu memberikan keikhlasan,
Sebab, tak seorang pun mau memberikan lebih dari apa yang anda minta,
selain seorang sahabat.

Banyak memang para pemimpin yang memuja kepada jabatannya,
Tidak sedikit pula para pemimpin yang begitu egois mementingkan dirinya sendiri,
Bahkan ada juga pemimpin yang sangat otoriter dan melupakan aturan bersama.

Kalau dipikir, rasanya tidak layak bagi seorang pemimpin memanfaatkan jabatannya untuk
kepentingan sempitnya sendiri.
Kalaupun itu terjadi, amatlah tidak layak.
Maka persahabatan bakal tidak lagi berdasar kepada ketulusan dan kemuliaan,
melainkan dipenuhi oleh tipu daya dan kelicikan.
Untuk yang seperti itu, ia takkan bisa memiliki sahabat tanpa menjadi sahabat bagi orang lain.

Menjadi pemimpin sekaligus menjadi sahabat.
Itu artinya, ia harus tetap menjalin kesetaraan dan sikap saling menghormati.
Ia pun harus bersedia memberi lebih dari yang diminta mereka.
Ia pun harus siap mau memikul beban mereka.

Menjadi pemimpin berarti menjadi sahabat bagi yang dipimpinnya.
Siap menjadi pemimpin berarti siap menjadi sahabat bagi pengikutnya.

Kamis, 21 Agustus 2008

MINTA MAAF MELALUI TINDAKAN

Gommennasai.
Itu adalah salah satu kata yang paling sering diucapkan oleh
orang Jepang.
Artinya adalah minta maaf.
Ya, orang jepang memang mudah sekali minta maaf.
Ini tentu tidak terlepas dari sikap orang Jepang yang sangat menjaga
perasaan orang lain.
Orang jepang selalu berusaha untuk tidak mengganggu orang lain.
Orang jepang selalu berusaha untuk tidak menyakiti perasaan orang lain.

Kaizen.
Ini juga sebuah kata dari bahasa jepang yang sering dipakai orang.
Artinya adalah perbaikan atau peningkatan.
Ya, orang Jepang memang selalu berusaha untuk memperbaiki sesuatu.
Ini tentu tidak terlepas dari sikap orang jepang yang selalu
berusaha untuk lebih baik lagi, lebih baik lagi.
Orang Jepang selalu berusaha untuk tidak mengulang kesalahan yang sama.
Orang Jepang selalu berusaha belajar dari kesalahan yang pernah dibuatnya.

Orang Jepang punya cara untuk meminta maaf yaitu tidak hanya melalui
ucapannya, tetapi juga melalui perbuatannnya.

Mungkin kita berpikir bahwa meminta maaf akan membenahi semua persoalan.
Tetapi ada yang bilang, kata-kata di bibir takkan bisa menambal perahu bocor.
Tindakanlah yang menyelamatkan hubungan dari keretakan dan luka yang lebih dalam.
Untuk meluruskan kesalahan, nyatanya perlu tindakan. Kecil pun tak apa.
Ketulusan dari keringat yang mengucur perlu ditampakkan kepada orang lain.
Kesungguhan dari permintaan maaf perlu diejawantahan dengan tindakan.
Orang bijak bilang, kata-kata mungkin bersayap, namun tindakan adalah dahan untuk hinggap.

Minggu, 10 Agustus 2008

LEBIH DARI SEKEDAR BEKERJA BERSAMA

Di luar sana, hujan baru saja reda.
Sisa gerimis masih membasahi jalan di depan sana.
Terkadang kita terpana melihat akibat dari hujan deras yang baru saja lewat.
Terkadang kita terpaku melihat kejadian alam.
Terkadang kita terpesona melihat pohon palem di depan rumah menyeruakkan setangkai bunga pucat kekuningan.

Barangkali selama ini kita tak menyadari kehadiran pohon itu, sampai ia memanggil-manggil perhatian kita
melalui gerumbul bunganya.
Atau, barangkali kita juga acuh tak acuh pada
burung-burung gelatik yang bertengger di atas jendela kantor, karena memang
begitulah mereka biasa adanya.
Hingga pada suatu saat mereka memancing kekaguman kita lewat cericit anak-anaknya yang baru menetas
beberapa hari lalu.

Dalam kehidupan kita,
Seringkali banyak orang seolah tak kenal pada rekan kerja yang bertugas
di sisi lain gedung pabrik mereka,
Hingga suatu saat mereka menerima berita gembira tentang pernikahan atau kelahiran bayinya yang ke sekian.
Tak jarang sebagian kita tak tahu bagaimana rajinnya rekan kerja di departemen sana
bekerja.
Hingga suatu saat kita menerima berita gembira tentang adanya bonus pencapaian target.
Tak sedikit pula mereka tak tahu rekan-rekan kerja telah berupaya keras saling membantu agar kerja tim
memenuhi tengat waktu.
Hingga suatu saat mereka menerima berita gembira tentang adanya kerjasama baru yang telah tercapai.

Kita tak menyadari keberadaan rekan kerja kita
Kita tak menyadari arti penting keberadaan rekan kerja kita

Saat itulah biasanya kita baru sadar bahwa sesuatu telah terjadi di luar sana.
Saat itulah biasanya mereka baru terbuka bahwa rekan kerja telah melakukan sesuatu.
Saat itulah biasanya mereka kita paham bahwa rekan kerja telah tak lagi bersama kita.

Sesungguhnya, selalu ada kehidupan yang berjalan berdampingan dengan kesibukan kita sendiri.
Karena memang dunia milik semua orang.
Kita boleh memiliki rencana, tapi orang lain pun demikian.
Kita boleh menginginkan sesuatu, tapi orang lain pun demikian.
Kita boleh berjalan sendiri, tapi orang lain pun demikian.

Bila kita ingin sendiri, barangkali orang lain pun ingin sendiri.
Tapi bila kita mengajak orang lain untuk bekerja bersama, barangkali orang lain pun akan bekerja bersama kita.

Bila kita luput menyadarinya, mereka pasti akan berusaha mengejutkan kita.
Nampaknya, kesalahan terbanyak dari kita adalah hanya sekedar bekerja bersama,
tanpa menyadari bahwa kita pun hidup bersama.

Sabtu, 02 Agustus 2008

LAKUKAN, MESKI SEDERHANA

Mungkin anda jarang melakukan ini, tapi mari kita coba lakukan.
Melakukan hal yang sederhana. Hal yang sederhana tapi berguna.

Hari ini coba cari barang, yang menurut anda paling sepele, tidak perlu nyari di mall atau super market, cukup saja di rumah anda.
Mungkin anda bisa mulai dari tutup tube pasta gigi yang tak terpakai. Coba perhatikan bagaimana bentuknya. Anda akan temukan sebuah bentuk yang sangat menarik, ukuran yang pas dengan pegangan, desain yang mantap (pake p ya), dan dengan ulir di bagian dalam yang teliti dan tepat.
Pernahkah anda membayangkan, bahwa pasti ada seseorang yang berjam-jam, berhari-hari dan bermalam-malam memikirkan bagaimana merancang barang sekecil itu agar bisa digunakan? Pernahkah anda membayangkan juga, pasti ada orang lain yang berhari-hari bahkan berminggu-minggu menyiapkan cetakan, membuatnya, mengujinya sampai menghantarkannya ke hadapan anda?

Sebelum anda buang barang yang wujudnya tampak begitu sederhana, temukan sesuatu yang luar biasa yang menjadikannya terwujud dengan baik. Apakah itu, yaitu sebuah usaha keras manusia.
Usaha keras untuk menghadirkan barang yang bermanfaat bagi kemudahan dan kesejahteraan hidup kita. Usaha keras yang sebenarnya menjadi tugas utama kita pada sesama: menjadi sesuatu yang berguna, meski apa yang kita lakukan itu tampaknya begitu sederhana.

Hari ini coba cari sesuatu, yang menurut anda paling sepele, tidak perlu nyari di mall atau super market, cukup saja di sekitar anda. Tempat kerja anda, sekitar lokasi bermain anda, atau komunitas di mana anda biasa kongkow-kongkow.

Mungkin anda bisa mulai dari apa yang sedang menjadi tujuan bersama yaitu mempersiapkan sebuah kegiatan bersama. Coba perhatikan bagaimana kawan-kawan anda bergerak, mengambil posisi masing-masing dan bekerja sesuai kemampuannya. Ada yang meembuat proposal, ada yang mencari sponsor, ada yang membuat desain flyer, ada yang menyiapkan kaos, ada yang ngusulin desain id card, stand banner, dan lain-lain.
Anda akan temukan sesuatu hal yang sangat menarik, hal kecil yang pas dengan kemampuan masing-masing, desain yang mantab (kali ini pake b ya), dan dengan sentuhan dedikasi yang kuat yang nampak dari hasilnya.

Pernahkah anda membayangkan, bahwa pasti ada seseorang yang berjam-jam dan bermalam-malam memikirkan bagaimana melakukan itu semua?
Pernahkah anda membayangkan juga, pasti ada orang lain yang berhari-hari bahkan tidak tidur menyiapkan itu semua sehingga saat ini kelihatannya lancar-lancar saja?

Sebelum anda lupakan sesuatu yang wujudnya tampak begitu sederhana ini, temukan sesuatu yang luar biasa yang menjadikannya hal terbaik.
Apakah itu, yaitu sebuah usaha keras manusia. Usaha keras kawan-kawan anda.
Usaha keras untuk menghadirkan sesuatu yang bermanfaat bagi tujuan bersama.
Usaha keras yang sebenarnya menjadi tugas utama kita pada sesama: melakukan sesuatu yang berguna, meski apa yang kita lakukan itu tampaknya begitu sederhana.

Kamis, 31 Juli 2008

MEREDAM KEBENCIAN

Benci.
Benci disini bukan kepanjangan dari bener-bener cinta.
Tapi benci sebenar-benarnya arti benci.
Tidak suka. Tidak senang.
Bisa karena dikecewakan.
Bisa karena disakiti.
Bisa karena hal sepele, tersinggung.

Diri kita, rasa benci yang sedang melanda, dan orang lain yang menjadi sasaran kebencian,
bisakah dipisahkan?
Dibiarkan begitu saja rasa benci itu seperti api di udara yang sekejap lenyap, bisakah?
Tak membiarkan orang lain sebagai kayu bakar untuk dihanguskan oleh api kebencian, bisakah?
Bila jawabannya adalah bisa, maka kita telah melangkah setapak menuju ruang batin yang jauh
lebih tenang, yang tak tersentuh oleh api kebencian.

Katanya, kunci membuka ruang hati yang damai dimulai dengan meredam kebencian pada
orang lain, dan bukan meredam kebencian itu sendiri.
Katanya, kekeliruan yang sering tak kita sadari adalah kita ingin membuang rasa benci,
namun kita tetap mengingat-ingat kepada siapa kita membenci.
Katanya, rasa benci tak memiliki daya, sampai kita menemukan obyek untuk dibenci.
Sebagaimana api di udara, takkan membakar sampai ia menemukan kayu untuk dihanguskan.

Redamlah kebencian itu.

MALU BERUSAHA? NO WAY...

Beberapa saat terakhir ini saya memang rajin melihat sekeliling.
Lebih dari itu, seringnya malah melihat ke atas, ke langit biru, ke bintang-bintang yang berkemilau di malam hari.
Bertanya kepada Sang Pencipta, melihat sekeliling untuk mencari jawaban.

Saya ingin ajak anda melihat sekeliling. Mari kita lihat sekeliling.
Mari bertanya tentang rejeki.
Ternyata yang namanya rejeki itu, bisa datang dari mana pun arah asalnya, selama manusia mau berusaha.
Lihatlah seorang bapak mengayuh sepeda keluar masuk gang menjajakan dagangan. Pada akhir hari ia mengantungi beberapa lembar penghasilan untuk penghidupannya esok hari.
Seorang lelaki muda berpanas-panas bekerja sebagai kuli aspal, membuat jalan. Dibiarkannya kulitnya menghitam legam. Itu pun jadi penghidupan bagi diri dan keluarganya.
Bahkan, seorang pemuda mengamen di persimpangan jalan demi sekeping dua keping uang logam, toh tak menyempitkan jalan bagi sesuap dua suap nasinya hari itu.

Dari mereka, saya belajar bahwa apa pun yang kita usahakan, selama keringat menetes, selama upaya terus ditegakkan, maka tak ada keraguan bagi datangnya rejeki pada kita.
Rejeki bisa datang dari arah yang tidak kita sangka.

Tidak bekerja pada orang lain, atau tak ada pekerjaan, berhenti bekerja dari pabrik yang selama ini menjadi sandaran hidup kita, barangkali adalah momok bagi sebagian besar warga Batam yang didominasi pekerja.
Mencoba usaha menjual pulsa elektronik, membuatkan panganan kecil bagi keluarga yang mau syukuran, menerima jahitan baju dari tetangga sebelah, dan banyak contoh lain usaha kecil-kecilan masih tabu dilakukan oleh kita.

Tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah.
Saatnya bagi saya untuk tidak lagi memilah-milah orang lain berdasarkan banyak sedikitnya penghasilan yang diperoleh. Karena pada dasarnya bukan itu persoalannya. Bukan pada berapa hasil yang kita kumpulkan, melainkan pada bagaimana upaya kita memperolehnya.
Saatnya bagi saya untuk tidak melupakan pandangan dari satu pelajaran: yaitu, betapa pemurahnya semesta ini bila kita mau berusaha, dan sama sekali tak malu berupaya.

Barang siapa ingin merubah nasibnya, maka ia harus berupaya mengubahnya sendiri.
Percayalah, di balik kesulitan yang kita hadapi, akan selalu ada kemudahan.

Sabtu, 14 Juni 2008

TERUS BEKERJALAH!

Apapun yang terjadi di muka bumi,
Sang mentari tak pernah beristirahat sedetik pun dari kerjanya,
Ia terus memancarkan sinarnya,
Ia terus menebarkan kehangatan ke seluruh galaksi raya.

Karena itu, tak ada alasan yang lebih baik untuk keberadaan kita disini,
Selain bekerja, mengubah energi dari dalam tubuh menjadi kebaikan bagi semesta raya.

Mungkin orang lain terus sibuk berbicara,
Mungkin orang lain bertingkah bermacam rupa,
Bagi diriku, baiknya tetaplah bekerja,
Bagi diriku, baiknya teruslah berkarya.

Barangkali orang lain berdiam diri tak tahu harus berkata apa,
Yang terbaik untukku adalah terus bekerja.

Barangkali orang lain ramai saling tuding saling menyalahkan,
Yang terbaik untukku adalah tetap berkarya.

Mentari adalah aku.
Aku adalah mentari.
Yang terus bekerja dan berkarya.

HIKMAH DI BALIK PERUBAHAN

Tiada yang abadi di dunia ini, dan bahwa segala sesuatu pasti berubah.
Sebuah kalimat yang penuh dengan keniscayaan.

Kondisi selama ini yang menggantungkan hidup dari bekerja di pabrik, kini telah berubah, berhenti bekerja di sana karena pabrik ditutup.
Begitu cepat berubah.

Selama ini bekerja untuk orang lain, tapi mulai saat ini harus berubah, harus bekerja untuk diri sendiri.
Siapkah? Tak perlu dijawab. Toh tidak siap pun, kondisi ini akan dialami.
Ambil saja hikmah dari perubahan ini.
Kalau selama ini digaji orang lain, tapi mulai saat ini harus berubah, tidak lagi menerima gaji.
Mungkin harus mulai bisa menggaji orang lain.
Mungkin harus mulai bisa memberi pekerjaan ke orang lain.

Matahari terbit dan terbenam. Bintang bercahaya lalu kelam. Siang berganti malam, malam berganti siang.
Bukankah kita tidak harus mencemaskan semua yang ada?
Bukankah kita tidak harus hanyut dalam semua perubahan.
Cukuplah mulai memahami, bahwa ada sesuatu bersembunyi di balik semua itu.
Ada hikmah di balik perubahan itu.
Sesuatu itu, yang tanpa disadari yang kita cari-cari selama ini.
Sesuatu itu adalah secercah ketenangan hati.

Selasa, 20 Mei 2008

DIAM

Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa kesempatan hanya didapat bila mereka bergerak,
berbicara atau mengambil tindakan.
Maka kemudian mereka berlomba-lomba untuk bergerak riang gembira, bahkan beradu cepat.
Dan ada pula yang beranggapan bahwa kesempatan yang paling baik akan datang
pada saat kita tenang, diam dan terpekur.
Ada pula orang bijak yang berkata bahwa kesempatan datang secara diam-diam.
Maka bila kita sibuk bersuara, bagaimana kita bisa mendengar jejak langkahnya yang senyap?
Maka bila kita tak cukup awas, bagaimana kita bisa melihat kehadirannya yang samar?
Maka bila kita terus bergerak, bagaimana kita bisa menyentuh wujudnya yang lembut?

Cobalah untuk diam.
Cobalah untuk hening.
Cobalah untuk tak bergerak.

Arahkan telinga untuk mendengar yang hampir tak terdengar.
Arahkan hati untuk berpikir yang selama ini tak terpikir.

(Sebuah tulisan sebagai pembenaran bagi yang suka melamun, halah...!)

Jumat, 11 April 2008

Inspirator (2)

“Bodoh sekali jika kita takut menghadapi apa yang tidak bisa kita hindari”
(Peribahasa Latin)

Selasa, 08 April 2008

Sadarkah kita?

Tanyakan pada diri sendiri, sadarkah kita bahwa:
Kita harus senantiasa melihat ke depan.
Karena itulah, kita memiliki dua mata di depan.
Lihatlah cita-cita ke depan, lihatlah kondisi yang lebih baik di depan.

Tanyakan pada diri sendiri, sadarkah kita bahwa:
Kita harus senantiasa mendengar dari kanan dan kiri.
Karena itulah, kita memiliki dua telinga di kedua sisi.
Dengarlah kritik, dengarlah pujian, dengarkan mana yang benar.

Tanyakan pada diri sendiri, sadarkah kita bahwa:
Kita sudah kaya, kita tidak miskin.
Karena kita memiliki otak yang tersembunyi di kepala sehingga tak seorang pun dapat mencuri isi kotak kita yang lebih berharga dari segepok permata.
Pakailah otak untuk berpikir kreatif, berpikir konstruktif.

Tanyakan pada diri sendiri, sadarkah kita bahwa:
Kita hanya memiliki satu mulut, cukup satu mulut.
Karena mulut berpotensi menjadi senjata tajam yang dapat melukai, memfitnah bahkan membunuh.
Bicaralah seperlunya, perbanyak melihat dan mendengar.

Tanyakan pada diri sendiri, sadarkah kita bahwa:
Kita hanya memiliki satu hati, cukup satu hati.
Karena hati dapat menghargai dan memberikan kasih sayang dari lubuk hati yang terdalam.

Mari,
Belajar untuk mencintai orang lain, tanpa berharap orang lain mencintai anda.
Bekerja untuk kebaikan bersama, tanpa berharap pamrih.
Berjuang untuk kesejahteraan bersama, tanpa berharap imbalan.
Berusaha untuk menjaga ukhuwah, tanpa pernah menyerah.
Berjalan untuk menjadi contoh, tanpa harus berambisi.
Berlari untuk mengejar impian, tanpa membuat lubang.
Berikan cinta tanpa mengharapkan balasan, insya allah hidup ini akan menjadi lebih indah.

(Gambar dari sini)

Jumat, 04 April 2008

Inspirator

“ Kita berbicara jujur hanya kepada diri kita sendiri, tetapi
kadang-kadang kita berbicara cukup keras agar orang lain bisa
mendengarnya. ”

(Kahlil Gibran)