Sabtu, 02 Agustus 2008

LAKUKAN, MESKI SEDERHANA

Mungkin anda jarang melakukan ini, tapi mari kita coba lakukan.
Melakukan hal yang sederhana. Hal yang sederhana tapi berguna.

Hari ini coba cari barang, yang menurut anda paling sepele, tidak perlu nyari di mall atau super market, cukup saja di rumah anda.
Mungkin anda bisa mulai dari tutup tube pasta gigi yang tak terpakai. Coba perhatikan bagaimana bentuknya. Anda akan temukan sebuah bentuk yang sangat menarik, ukuran yang pas dengan pegangan, desain yang mantap (pake p ya), dan dengan ulir di bagian dalam yang teliti dan tepat.
Pernahkah anda membayangkan, bahwa pasti ada seseorang yang berjam-jam, berhari-hari dan bermalam-malam memikirkan bagaimana merancang barang sekecil itu agar bisa digunakan? Pernahkah anda membayangkan juga, pasti ada orang lain yang berhari-hari bahkan berminggu-minggu menyiapkan cetakan, membuatnya, mengujinya sampai menghantarkannya ke hadapan anda?

Sebelum anda buang barang yang wujudnya tampak begitu sederhana, temukan sesuatu yang luar biasa yang menjadikannya terwujud dengan baik. Apakah itu, yaitu sebuah usaha keras manusia.
Usaha keras untuk menghadirkan barang yang bermanfaat bagi kemudahan dan kesejahteraan hidup kita. Usaha keras yang sebenarnya menjadi tugas utama kita pada sesama: menjadi sesuatu yang berguna, meski apa yang kita lakukan itu tampaknya begitu sederhana.

Hari ini coba cari sesuatu, yang menurut anda paling sepele, tidak perlu nyari di mall atau super market, cukup saja di sekitar anda. Tempat kerja anda, sekitar lokasi bermain anda, atau komunitas di mana anda biasa kongkow-kongkow.

Mungkin anda bisa mulai dari apa yang sedang menjadi tujuan bersama yaitu mempersiapkan sebuah kegiatan bersama. Coba perhatikan bagaimana kawan-kawan anda bergerak, mengambil posisi masing-masing dan bekerja sesuai kemampuannya. Ada yang meembuat proposal, ada yang mencari sponsor, ada yang membuat desain flyer, ada yang menyiapkan kaos, ada yang ngusulin desain id card, stand banner, dan lain-lain.
Anda akan temukan sesuatu hal yang sangat menarik, hal kecil yang pas dengan kemampuan masing-masing, desain yang mantab (kali ini pake b ya), dan dengan sentuhan dedikasi yang kuat yang nampak dari hasilnya.

Pernahkah anda membayangkan, bahwa pasti ada seseorang yang berjam-jam dan bermalam-malam memikirkan bagaimana melakukan itu semua?
Pernahkah anda membayangkan juga, pasti ada orang lain yang berhari-hari bahkan tidak tidur menyiapkan itu semua sehingga saat ini kelihatannya lancar-lancar saja?

Sebelum anda lupakan sesuatu yang wujudnya tampak begitu sederhana ini, temukan sesuatu yang luar biasa yang menjadikannya hal terbaik.
Apakah itu, yaitu sebuah usaha keras manusia. Usaha keras kawan-kawan anda.
Usaha keras untuk menghadirkan sesuatu yang bermanfaat bagi tujuan bersama.
Usaha keras yang sebenarnya menjadi tugas utama kita pada sesama: melakukan sesuatu yang berguna, meski apa yang kita lakukan itu tampaknya begitu sederhana.

Kamis, 31 Juli 2008

MEREDAM KEBENCIAN

Benci.
Benci disini bukan kepanjangan dari bener-bener cinta.
Tapi benci sebenar-benarnya arti benci.
Tidak suka. Tidak senang.
Bisa karena dikecewakan.
Bisa karena disakiti.
Bisa karena hal sepele, tersinggung.

Diri kita, rasa benci yang sedang melanda, dan orang lain yang menjadi sasaran kebencian,
bisakah dipisahkan?
Dibiarkan begitu saja rasa benci itu seperti api di udara yang sekejap lenyap, bisakah?
Tak membiarkan orang lain sebagai kayu bakar untuk dihanguskan oleh api kebencian, bisakah?
Bila jawabannya adalah bisa, maka kita telah melangkah setapak menuju ruang batin yang jauh
lebih tenang, yang tak tersentuh oleh api kebencian.

Katanya, kunci membuka ruang hati yang damai dimulai dengan meredam kebencian pada
orang lain, dan bukan meredam kebencian itu sendiri.
Katanya, kekeliruan yang sering tak kita sadari adalah kita ingin membuang rasa benci,
namun kita tetap mengingat-ingat kepada siapa kita membenci.
Katanya, rasa benci tak memiliki daya, sampai kita menemukan obyek untuk dibenci.
Sebagaimana api di udara, takkan membakar sampai ia menemukan kayu untuk dihanguskan.

Redamlah kebencian itu.

MALU BERUSAHA? NO WAY...

Beberapa saat terakhir ini saya memang rajin melihat sekeliling.
Lebih dari itu, seringnya malah melihat ke atas, ke langit biru, ke bintang-bintang yang berkemilau di malam hari.
Bertanya kepada Sang Pencipta, melihat sekeliling untuk mencari jawaban.

Saya ingin ajak anda melihat sekeliling. Mari kita lihat sekeliling.
Mari bertanya tentang rejeki.
Ternyata yang namanya rejeki itu, bisa datang dari mana pun arah asalnya, selama manusia mau berusaha.
Lihatlah seorang bapak mengayuh sepeda keluar masuk gang menjajakan dagangan. Pada akhir hari ia mengantungi beberapa lembar penghasilan untuk penghidupannya esok hari.
Seorang lelaki muda berpanas-panas bekerja sebagai kuli aspal, membuat jalan. Dibiarkannya kulitnya menghitam legam. Itu pun jadi penghidupan bagi diri dan keluarganya.
Bahkan, seorang pemuda mengamen di persimpangan jalan demi sekeping dua keping uang logam, toh tak menyempitkan jalan bagi sesuap dua suap nasinya hari itu.

Dari mereka, saya belajar bahwa apa pun yang kita usahakan, selama keringat menetes, selama upaya terus ditegakkan, maka tak ada keraguan bagi datangnya rejeki pada kita.
Rejeki bisa datang dari arah yang tidak kita sangka.

Tidak bekerja pada orang lain, atau tak ada pekerjaan, berhenti bekerja dari pabrik yang selama ini menjadi sandaran hidup kita, barangkali adalah momok bagi sebagian besar warga Batam yang didominasi pekerja.
Mencoba usaha menjual pulsa elektronik, membuatkan panganan kecil bagi keluarga yang mau syukuran, menerima jahitan baju dari tetangga sebelah, dan banyak contoh lain usaha kecil-kecilan masih tabu dilakukan oleh kita.

Tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah.
Saatnya bagi saya untuk tidak lagi memilah-milah orang lain berdasarkan banyak sedikitnya penghasilan yang diperoleh. Karena pada dasarnya bukan itu persoalannya. Bukan pada berapa hasil yang kita kumpulkan, melainkan pada bagaimana upaya kita memperolehnya.
Saatnya bagi saya untuk tidak melupakan pandangan dari satu pelajaran: yaitu, betapa pemurahnya semesta ini bila kita mau berusaha, dan sama sekali tak malu berupaya.

Barang siapa ingin merubah nasibnya, maka ia harus berupaya mengubahnya sendiri.
Percayalah, di balik kesulitan yang kita hadapi, akan selalu ada kemudahan.

Sabtu, 14 Juni 2008

TERUS BEKERJALAH!

Apapun yang terjadi di muka bumi,
Sang mentari tak pernah beristirahat sedetik pun dari kerjanya,
Ia terus memancarkan sinarnya,
Ia terus menebarkan kehangatan ke seluruh galaksi raya.

Karena itu, tak ada alasan yang lebih baik untuk keberadaan kita disini,
Selain bekerja, mengubah energi dari dalam tubuh menjadi kebaikan bagi semesta raya.

Mungkin orang lain terus sibuk berbicara,
Mungkin orang lain bertingkah bermacam rupa,
Bagi diriku, baiknya tetaplah bekerja,
Bagi diriku, baiknya teruslah berkarya.

Barangkali orang lain berdiam diri tak tahu harus berkata apa,
Yang terbaik untukku adalah terus bekerja.

Barangkali orang lain ramai saling tuding saling menyalahkan,
Yang terbaik untukku adalah tetap berkarya.

Mentari adalah aku.
Aku adalah mentari.
Yang terus bekerja dan berkarya.

HIKMAH DI BALIK PERUBAHAN

Tiada yang abadi di dunia ini, dan bahwa segala sesuatu pasti berubah.
Sebuah kalimat yang penuh dengan keniscayaan.

Kondisi selama ini yang menggantungkan hidup dari bekerja di pabrik, kini telah berubah, berhenti bekerja di sana karena pabrik ditutup.
Begitu cepat berubah.

Selama ini bekerja untuk orang lain, tapi mulai saat ini harus berubah, harus bekerja untuk diri sendiri.
Siapkah? Tak perlu dijawab. Toh tidak siap pun, kondisi ini akan dialami.
Ambil saja hikmah dari perubahan ini.
Kalau selama ini digaji orang lain, tapi mulai saat ini harus berubah, tidak lagi menerima gaji.
Mungkin harus mulai bisa menggaji orang lain.
Mungkin harus mulai bisa memberi pekerjaan ke orang lain.

Matahari terbit dan terbenam. Bintang bercahaya lalu kelam. Siang berganti malam, malam berganti siang.
Bukankah kita tidak harus mencemaskan semua yang ada?
Bukankah kita tidak harus hanyut dalam semua perubahan.
Cukuplah mulai memahami, bahwa ada sesuatu bersembunyi di balik semua itu.
Ada hikmah di balik perubahan itu.
Sesuatu itu, yang tanpa disadari yang kita cari-cari selama ini.
Sesuatu itu adalah secercah ketenangan hati.