Minggu, 26 April 2009

Merilis Produk Baru

Kalau kita mau belajar dari perusahaan-perusahaan besar yang membuat dan memasarkan produk-produk yang bisa langsung dipakai oleh masyarakat, maka ada satu hal menarik yang selalu dilakukan oleh mereka, yaitu melepas produk-produk baru secara berkala. Dengan kehadiran produk baru, pasar yang mulai memasuki grafik penjualan yang menurun akan dinaikkan kembali oleh grafik penjualan produk baru sehingga bila grafik penjualan berbentuk parabola dari beberapa produk itu dijajarkan maka akan menyerupai bentuk gunung yang berjajar. Artinya, pendapatan yang mulai menurun dari hasil penjualan produk yang sekarang akan dinaikkan kembali oleh hasil penjualan produk baru.
Mengapa kita mesti menyiapkan dan melepas produk baru? Tentu kita semua bisa memahami bahwa umur suatu produk adalah terbatas, tidak selamanya sebuah produk bisa dipertahankan pada posisi puncak penjualannya. Sebuah handphone misalnya, walaupun sebuah model sempat booming pada peluncuran perdananya, tentu suatu saat penjualannya akan menurun bila produk baru dengan fitur yang lebih baik telah muncul dan dilepas ke pasar. Begitu pula dengan sebuah restoran cepat saji, ia pun selalu harus berusaha membuat menu baru walau hanya berubah pada rasa atau bahkan pada cara memasaknya.
Contoh lain adalah sebuah toko yang menyediakan berbagai souvenir, tentu akan mengalami kesulitan menambah penjualan kalau tidak berupaya menambah varian souvenirnya. Jangan-jangan, pelanggan akan berkomentar: ”Itu lagi, itu lagi, bosan ah”... Sebuah kedai yang menjual beraneka ragam jenis pakaian, tentu juga harus konsisten meng-update model-modelnya kalau tidak mau dibilang ketinggalan jaman. Bahkan sebuah usaha bakery sekalipun, menurut hemat saya perlu untuk membuat terobosan-terobosan baru pada produknya. Bermacam terobosan seperti variasi warna, variasi bentuk dan variasi rasa nampaknya perlu dicoba, diteliti dan dikembangkan.
Berikut ini adalah beberapa langkah kecil yang perlu dilakukan sebelum kita merilis produk baru ke pasar.
Pertama, pelajari tren pasar saat ini atau apa yang diinginkan pasar. Lihat parameter bentuk, warna, ukuran, jumlah, rasa, packaging (bungkusnya), bahan baku dan sebagainya, kemudian kembangkan berbagai varian dari parameter tersebut. Tentukan dan buat produk baru dari hasil pengembangan beberapa parameter tadi.
Kedua, pastikan ketersedian pasokan bahan baku. Karena kalau produk baru sudah dilepas ternyata mendapat tanggapan yang bagus dari pasar, maka kelangsungan pasokan produk baru mesti bisa dijaga. Untuk ini, akan lebih baik bila supplier pemasok bahan baku bisa lebih dari satu.
Ketiga, hitung biaya yang muncul untuk merilis produk baru ini yang meliputi biaya material atau bahan baku maupun biaya penambahan tenaga kerja ataupun pengadaan mesin baru bila ada. Tentukan juga berapa besar margin yang akan diperoleh dari setiap satuan produk baru ini. Dengan demikian, berapa modal yang diperlukan dan berapa lama akan kembali bisa diprediksi.
Keempat, siapkan promosi yang mengguncang pasar. Gunakan bahasa-bahasa iklan yang mengundang perhatian. Bila menggunakan media koran, brosur atau spanduk, minta kepada desainernya untuk membuat desain iklan dengan ide yang paling ciamik.
Kelima, lakukan sekarang juga. Mulai dari perubahan yang kecil tetapi memberikan nuansa baru dari produk Anda. Dan lakukan oleh Anda sendiri.
Semoga berhasil.

Senin, 20 April 2009

MENAMBAH KETRAMPILAN DAN KEMAMPUAN BURUH DI BATAM

1 Mei sudah di ambang pintu. Hari buruh sudah akan kembali dirayakan. Sebagaimana biasa, nampaknya para buruh di Batam akan kembali menyuarakan tuntutan pemenuhan hak-hak mereka. Upah layak bisa jadi masih akan menjadi issue sentral. Penghapusan outsourcing dan karyawan kontrak mungkin juga masih akan mendominasi issue perayaan hari buruh tahun ini.

Berbicara Batam memang tidak akan pernah lepas dari issue buruh maupun issue pengusaha, kepentingan buruh dan kepentingan pengusaha. Daya tarik investasi di Batam saja seringkali dirangsang dengan jargon upah murah di Batam! Jadi, jangan salahkan siapapun kalau kemudian di Batam ternyata betul bahwa upah buruhnya murah, lah wong setingan awalnya memang demikian. Berbicara upah buruh di Batam, tentu akan membuat buruh, pengusaha dan pemerintah dipaksa untuk kembali memasuki forum diskusi yang panjang dan melelahkan.

Saya sih bingung saja, mengapa besaran upah selalu menjadi topik utama diskusi tahunan antara ketiga pihak tadi. Kenapa pengusaha tidak berpikir dan berusaha untuk bagaimana produksinya terus bertambah dan profit yang didapat juga semakin tinggi? Why buruh tidak menitikberatkan kepada kegiatan dan upaya menambah pengetahuan, ketrampilan dan kemampuannya sehingga mampu mengerjakan tugas yang diembannya sebaik-baiknya? Mengapa juga pemerintah tidak berusaha berada pada posisi tengah, mempermudah perijinan usaha, mengurangi biaya siluman, memberikan insentif pajak bagi pengusaha, di samping juga berupaya mengendalikan harga sembako, menyediakan transportasi dan perumahan murah, juga menyiapkan pendidikan dan kesehatan gratis bagi masyarakat pekerja?

Apa yang bisa dilakukan pengusaha untuk menjadikan pulau Batam sebagai ladang pertanian yang subur bagi usahanya, biarlah menjadi urusan pengusaha.

Apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk menjadikan pulau Batam sebagai surga bagi para investor dan para pekerjanya, biarlah menjadi urusan pemerintah.

Sebagai bagian dari pekerja, saya hanya ingin sekedar urun pendapat soal bagaimana baiknya pekerja itu berupaya.

Bagi saya simple saja, kalau memang upah yang lebih besar yang diinginkan, maka menambah ketrampilan dan menambah kemampuan sehingga dapat melaksanakan tugas dan menyelesaikan tanggungjawabnya sebagai pekerja adalah kuncinya.

Upah akan berbanding lurus dengan kinerja. Ketrampilan yang tinggi, kemampuan yang mumpuni bisa menjadi bekal yang cukup untuk mendapatkan upah yang lebih baik.

Untuk itu, kemampuan berbahasa asing, kemampuan berkomunikasi, kemampuan melakukan presentasi dan kemampuan menyelesaikan hal administratif mesti ditingkatkan. Kemampuan bekerjasama dalam tim dan kemampuan memimpin kudu terus diasah. Ketrampilan teknis di bidang elektronika dan mekanikal harus terus ditambah. Kursus welding, kursus elektrikal, kursus PLS, kursus pemrograman komputer, kursus mekanikal, kursus painting, kursus inspeksi mutu dan yang lainnya yang menunjang pekerjaan kita mesti dijadwalkan untuk diikuti.

Para pemimpin buruh mungkin bisa membantu anggota serikat pekerjanya untuk mendesak pemerintah menyediakan pendidikan atau kursus yang murah yang dapat diikuti oleh banyak pekerja. Pemerintah bisa didorong untuk mendayagunakan Balai Latihan Kerja. Pemerintah bisa juga diajak untuk menghidupkan Skill Development Center yang mungkin ada di Batam. Bahkan pemerintah bisa dimintai tolong untuk menghimbau swasta untuk menyelenggarakan program pendidikan dan kursus yang dapat meningkatkan ketrampilan dan kemampuan buruh di Batam. Para pengusaha bisa dimintai bantuan oleh pemerintah untuk menyumbangkan mesin-mesin produksi yang sudah tidak digunakan lagi untuk disumbangkan kepada lembaga-lembaga pendidikan ketrampilan untuk pekerja.

Kalau lembaga pendidikan ketrampilan pekerja menjamur, peralatan dan mesin-mesin untuk praktek pun semakin lengkap, dan para pekerja dapat mengikuti berbagai pendidikan dan kursus ketrampilan ini, bisa diyakini bahwa para pekerja di Batam akan sangat terampil. Ini berarti permasalahan produksi di pabrik sehari-hari akan jauh berkurang. Pada gilirannya nanti, produktifitas dan efisiensi akan sangat tinggi yang kemudian berpengaruh kepada profit yang tinggi bagi pengusaha. Ujung-ujungnya, tentu pengusaha tidak akan keberatan kalau upah diberikan sesuai dengan kebutuhan hidup layak.

Bagaimana menurut anda?

Rabu, 15 April 2009

PERLU PERENCANAAN UNTUK BISA HIDUP DI BATAM


Masa lalu adalah masa yang sudah lewat, kita tidak bisa mengubahnya dan kita tidak bisa memperbaikinya. Masa sekarang adalah kado terindah atau sebuah anugerah, maka itu kita mesti bisa memanfaatkannya sebaik mungkin. Sedangkan masa depan penuh dengan ketidakpastian, sulit diduga dan tak bisa dikendalikan. Tetapi justeru karena itulah, kita perlu merencanakan hidup supaya kita mudah melakukan tindakan apapun yang diperlukan. Demikian halnya bagi kita yang hidup di Batam saat ini, kita memerlukan perencanaan untuk bisa hidup di Batam.

Permasalahan pertama yang sering dihadapi oleh kita yang hidup di Batam adalah hidup dalam kesendirian. Sebagai perantau, biasanya kita jauh dari sanak keluarga bahkan teman-teman yang selama ini menemani kita mengisi kehidupan sehari-hari. Untuk kita yang baru tinggal di Batam, perasaan sepi, kangen dengan keluarga ataupun orang yang kita kasihi, ingin pulang dan perasaan semacam itu bisa dipastikan menguasai hampir 24 jam waktu yang kita miliki.

Menghadapi masalah seperti ini nampaknya tidak ada cara lain selain kita mesti keluar dari kesendirian itu. Bergaul dengan teman-teman di tempat kerja, bercengkerama dengan tetangga sekitar tempat tinggal kita, mengikuti kegiatan ibadah, aktif dalam kegiatan sosial dan olahraga barangkali dapat menjadi alternatif dalam berperang dalam kesunyian hidup di Batam. Cobalah!

Yang kedua adalah masalah pendapatan. Kalau diteliti, mungkin alasan bekerja akan menempati urutan teratas alasan mengapa banyak dari kita yang datang ke Batam. Sebagai kota industri, Batam memang sangat menarik minat kita untuk rela jauh-jauh datang dari kampung ke halaman menuju Batam. Gaji yang tinggi, pengalaman kerja yang mumpuni, serta pergaulan yang luas yang mungkin didapat, telah menambah semangat kita mendatangi pulau yang menyerupai kalajengking ini. Sayangnya, terkadang harapan tak sesuai dengan kenyataan. Masih banyak di antara kita yang memiliki penghasilan pas-pasan. Jangankan untuk menabung, untuk menutupi kebutuhan harian saja seringkali kita mesti berhemat.

Maka, apabila kita dapat menggunakan waktu luang yang tersedia dan mengisinya dengan kegiatan yang produktif, tentulah akan sangat membantu. Kegiatan wirausaha kecil-kecilan bisa menjadi pilihan, misalnya menjadi penyedia jasa pulsa elektronik bagi teman-teman sekitar kita, membuat makanan ringan dan menitipjualkan di kedai sebelah tempat tinggal kita atau di kantin tempat kita bekerja. Bagi yang menguasai komputer, rajin menulis di blog atau membuat review sebuah blog Atau bahkan menciptakan tema-tema untuk penghias halaman blog bisa menjadi alternatif mendapatkan tambahan penghasilan di luar jam kerja. Menggunakan kemampuan teknis kita dalam memperbaiki peralatan elektronik atau melakukan servis kendaraan bermotor juga bisa menjadi kegiatan sambilan di waktu luang. Seorang teman bahkan hanya mengandalkan sebuah komputer dan kemampuannya menciptakan desain untuk kaos, tanpa memiliki kemampuan sablon (ia berikan kepada temannya yang jago sablon), dan kini ia memiliki sebuah usaha spesialis sablon yang pendapatannya mencapai 5x lipat dari pendapatannya pada saat ia bekerja di sebuah pabrik. Pengalaman menunjukkan bahwa contoh-contoh kegiatan tadi tidaklah memerlukan tambahan modal, yang diperlukan adalah sebuah kemauan yang kuat untuk menambah penghasilan. Nampaknya itu sadja!

Yang ketiga adalah masalah pengeluaran yang tinggi. Banyak orang bilang, BATAM adalah singkatan dari Bila Anda Tiba Anda Menangis. Bisa jadi, anekdot ini berkaitan dengan biaya hidup di Batam yang tinggi. Dibanding di pulau Jawa, harga sembako di Batam relatif lebih mahal. Transportasi di Batam di samping masih semrawut, tarifnya juga tidak murah. Sedangkan tempat tinggal, jangankan untuk membeli rumah, untuk menyewa pun harganya sudah cukup tinggi. Jadilah itu semua membenarkan asumsi anekdot di atas.

Tetapi apakah kita harus menyerah begitu saja? Tentu tidak dong. Mengingat kembali niat awal datang ke Batam untuk menang, mari kita ubah anekdot di atas menjadi anekdot yang berenergi positif: BATAM berarti Bila Anda Tabah Anda Menang! Mari siasati masalah biaya tinggi ini dengan bijak. Ajak beberapa orang teman untuk tinggal bersama, dan menyewa sebuah rumah yang layak di dekat tempat kerja kita. Lakukan kegiatan masak memasak secara bersama-sama, dan tutupi kebutuhan hidup secara bersama-sama pula. Belanjalah di pasar tradisional yang murah, gunakan sepeda sebagai alat transportasi kita. Biasakan gaya hidup yang sederhana dan hemat. Sesekali pergilah berwisata ke tempat-tempat yang tidak mengeluarkan biaya tinggi misalnya ke pantai, ke jembatan barelang dan sebagainya. Nikmati hidup, tabah menghadapi persoalan hidup yang ada, dan berdoalah kepada Yang Maha Kuasa agar senantiasa mendapat petunjuk-Nya dalam menjalani hidup ini. Insya allah, hidup di Batam akan penuh dengan kenyamanan.

Karena itu, buatlah perencanaan!

Jumat, 06 Maret 2009

BERWIRAUSAHA ITU SEPERTI MASUK TOILET

Lima tahun lalu, saya yang masih asyik bekerja di sebuah perusahaan elektonik Jepang di Mukakuning ditawari untuk bergabung mengelola usaha yang dilakukan seorang teman di bidang kelistrikan. Walaupun berlatarbelakang teknik, saya merasa kurang sreg keluar dari zona kenyamanan sebagai seorang karyawan berpangkat Asisten Manajer itu.

Tahun lalu, teman saya itu kembali melemparkan ide untuk membuat sebuah badan hukum PT dan meminta saya mengelola perusahaan patungan tersebut. Saya yang saat itu baru pindah kerja sebagai seorang Manajer Engineering di sebuah perusahaan elektronik di kawasan Panbil akhirnya mengiyakan tetapi tetap saja merasa kurang sreg untuk berpindah kuadran ini. Saya pikir, saya mau menjalankan usaha apa, lha wong tidak tahu situasi di luar sana. Pertanyaan seperti: apa saya bisa melakukan usaha? Kalau perlu modal besar, uang dari mana? Terus berkecamuk mengganggu tidur saya. Namun saya tetap mempertimbangkannya. Dan setelah dipikir cukup lama, juga diskusi cukup dalam dengan orang rumah, dengan disertai pikiran ragu dan berat hati, akhirnya saya memberanikan diri untuk resign dari perusahaan yang baru 2 bulan saya masuki itu dan saya setuju untuk mengelola perusahaan patungan itu. Tetapi karena masih khawatir dengan penghasilan yang diperoleh dari usaha bersama teman saya itu, pada saat yang bersamaan, saya juga membeli sebuah usaha waralaba di bidang pembuatan souvenir pribadi dengan teknik digital printing yang saya dirikan di salah satu ruko di Panbil.

Memulai usaha sendiri ternyata bukanlah hal yang mudah. Walaupun kantor sudah ada, modal sudah ada, dan orang sudah ada, tetapi kalau order tidak ada, semua yang disebutkan tadi menjadi tak berguna. Tahukah anda bahwa ernyata teman saya menyerahkan semua urusan usaha kepada saya. Mau usaha di bidang apa saja terserah. Tak ada spesialisasi lah. “Pokoknya ada order apa, embat saja”, katanya. Tentu ini membuat saya tambah bingung.

Satu bulan saya mengelola perusahaan itu, tak ada order satu pun, dua bulan ke sana kemari juga belum ada order. Bulan ketiga dan keempat juga sama, nol besar. Lha wong mau menawarkan diri masuk perusahaan masih malu. Yang ditawarkan juga tidak jelas. Kondisi ini terus berjalan hingga bulan ke bulan-bulan selanjutnya. Bersamaan dengan itu, usaha souvenir pribadi saya yang menyediakan produk mug, jam dinding, jam keramik, pin aneka ukuran, gantungan kunci, id-card, mouse pad, dan kaos yang bisa diberi tulisan dan gambar si pemesan pun mulai berjalan. Pendapatannya memuaskan? Tentu tidak! Walaupun sudah mendapatkan order, tetapi hanya baru bisa menutupi biaya operasional, sewa tempat dan gaji karyawan. Repot nih. Di perusahaan saya belum ambil gaji, di kedai souvenir juga belum bisa ambil uang. Wah, bisa gawat! Tidak lama lagi, ibunya anak-anak pasti akan mulai berkicau.

“Kalau mau mulai usaha itu, jangan terlalu banyak dipikir. Pakai otak kanan, lakukan saja, pikir kemudian. Ibarat orang mau masuk toilet, kalau sudah kebelet ya masuk saja ke toilet, tutup pintu, langsung buang air. Permasalahan kemudian ternyata tidak ada handuk atau perlu sabun, kan bisa minta tolong isteri untuk mengambilkan”, demikian yang saya dengar dari Purdi E Chandra, gurunya wirausahawan Indonesia, pada sebuah Seminar Cara Gila Jadi Pengusaha yang diadakan di Batam waktu itu. Mendengar ini, tentu saya tertegun, dan mencoba merenungkan maksudnya.

Dulu, di awal permulaan menjalankan kedai souvenir, kalau ada yang minta di luar produk yang tersedia maka saya akan menolak dan mengatakan tidak ada atau tidak bisa. Sekarang tidak lagi bro! Dengan semangat saya akan bilang ya, ada, saya akan buatkan segera, dan kemudian saya akan berusaha mencari orang yang bisa membuatnya. Kalau di Batam tidak bisa, saya cari di Jakarta. Dengan cara ini, ternyata omset souvenir saya terus bertambah. Saudara-saudara, dari sini saya belajar bagaimana berani optimis dengan bisnis orang lain (BOBOL).

Bagaimana nasib perusahaan kami? Saya akhirnya lebih berani menawarkan jasa apa saja, mulai mekanikal, elektrikal, bahkan sipil juga bisa. Mau rental alat berat oke, minta jasa rekrutmen oke, training ayo, supply spare part juga ada. Apa saja, yang penting halal. Perkara bisa mengerjakan atau tidak, itu urusan belakang. Jalan ke sana kemari, ke Tancung Uncang sampai Batu Ampar bahkan sampai Kabil sudah tak menjadi masalah. Ketemu teman lama, menjadi pekerjaan sehari-hari, dalam rangka menyambung silaturahmi dan mencari rejeki!

Saudara-saudara, tak dinyana, order spare part seharga 200-an juta datang. Separuh lebih modal bukanlah uang saya! Dari sini, saya belajar berani optimis dengan duit orang lain (BODOL). Kemudian dapat pekerjaan pembuatan plang papan nama besar 3x8 meter. Dikerjain sendiri? Ofcourse not! Saya kasih tukang teralis buat mengerjakan. Dari sini saya belajar berani optimis dengan tenaga orang lain (BOTOL). Pekerjaan membuat taman di sebuah komplek perumahan pun sudah di depan mata. Tentu bukan saya yang bekerja menyiapkan tanah subur dan berbagai tanaman itu. Order perawatan 26 ruko, insya allah bisa segera disetujui.

Saudara-saudara, keberanian telah membuat suasana yang berbeda! Saya mendapatkan teman-teman di luar sana yang bisa diajak bekerja bersama, dan bisa dimintai tolong modal dengan sistem bagi hasil. Ada orang yang bisa kerja, tapi tak ada order. Ada orang yang punya uang, tapi tidak tahu bagaimana menggunakannya. Keberanian memakai otak kanan terbukti mendatangkan hasil. Saudara-saudara, itu semua didapat setelah berprinsip bahwa berwirausaha itu ibarat masuk toilet! Berani mencoba?

Senin, 03 November 2008

Mengambil Hikmah dari Semut

Memulai usaha sendiri, ternyata tidak mudah.
Mengawali segala sesuatu dari diri sendiri, ternyata cukup melelahkan.
Mendapatkan penghasilan dari apa yang dilakukan oleh diri sendiri, ternyata bukanlah hal yang sederhana.

Kalau dulu sewaktu masih bekerja di parik, semuanya sudah ada.
Orang ada, mesin ada, bahan baku pun tersedia, order? banyak.
Karena sudah ada order, sudah ada production planning, bagian produksi tinggal produksi aja.
Ingin melakukan re-dessign, paling cukup meminta para engineer untuk melakukannya.
Mau mencoba material baru, kita tinggal minta bagian purchasing untuk cari material.
Kalau ada perbaikan proses, paling-paling cuma ngumpulin team, bicarakan teknisnya, atur jadwal, monitoring, evaluasi.

Tapi sekarang, itu tak lagi bisa dilakukan.
Memiliki usaha sendiri walaupun sekecil ukuran kamar kos anak mahasiswa, tidaklah bisa dipandang sebelah mata.
Mesin-mesin produksi juga sebenarnya tidak gede-gede amat, tidak susah-susah amat.
Yang susah adalah mencari orderan bro!
Soalnya, tak ada orderan berarti tak ada kerja.
Tak ada kerja berarti tak ada pengiriman barang.
Tak ada pengiriman berarti tak ada pemasukan.
Tak ada pemasukan berarti ya tak bisa makan lah...!

Belum lagi masalah tenaga kerja.
Dulu, semuanya sudah ada, team kerja juga lengkap.
Sekarang? Lebih dari sekedar one for all, all for one.
Lebih dari sekedar satu orang ngerjain semuanya, atau semuanya dikerjain satu orang bro!

Menghadapi situasi sulit ini, hampir menangis memang...
Hampir terpuruk dalam kesedihan...
Tapi kemudian ingat tulisan yang amat bermakna tentang semut.
Mengingatkan untuk tetap tegar menghadapi ini semua.

Rekan,
Dari semut, manusia hendaknya bisa mengambil hikmah tentang kehidupan.
Dari semut yang amat mulia ini, ada hikmah yang harus diambil.

Saking mulianya makhluk ini, pernah suatu waktu Raja Daud berpesan kepada puteranya,” Anakku jika engkau nanti menjadi seorang raja yang akan memimpin bangsamu, ajaklah rakyatmu belajar dari para semut." Bahkan Muhammad SAW tokoh terbesar dalam sejarah peradaban manusia mengapresiasikan kekagumannya dalam sabdanya : “Belajarlah dari semut, kesabaran, pengorbanan dan fidaa’.”

Semut ngajarin kita untuk:
- Bertekad Tekad Pantang Menyerah
Lihatlah gerak-gerik semut dalam kesehariannya. Cobalah halangi laju jalannya dengan batu misalnya. Akankah dia berhenti dan pulang begitu saja? Tentu tidak, dia akan tetap berusaha mungkin mendaki batu tersebut atau berputar mencari jalan sendiri.
Konsep “winner never quit and quitter never win” benar-benar diterapkan. Tidak pernah kita melihat putus asa saat kita halang-halangi jalannya. Bahkan dia siap bertempur hingga tetes darah penghabisan guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Semut adalah tipe pekerja, yang tiada kenal lelah bekerja mengumpulkan makanan sebagai bekal pada musim dingin. Tidak pernah sekalipun dia mangkir dari pekerjaan walaupun tidak ada satu semut yang mensupervisinya. Semua sadar, bahwa mereka harus bekerja dengan keras untuk kepentingan bersama.

- Perencanaan yang baik
Semut adalah binatang yang sangat bijaksana dan mampu mengendalikan diri. Mereka menyadari bahwa untuk segala sesuatu ada waktunya. Mereka menyadari ada kalanya harus bekerja keras untuk mengumpulkan makanan dan ada waktunya untuk beristirahat. Ketika masa untuk bekerja datang, mereka akan menggunakannya untuk mengumpulkan bekal makanan. Karena mereka sadar ketika musim dingin tiba, mereka akan dapat beristirahat di dalam sarangnya yang hangat, dan penuh berkecukupan makanan.
Semut sangat jeli mengatur kepentingan dan kebutuhan mereka sendiri. Pernah sebagai utusan Tuhan, Sulaiman yang diberi kelebihan untuk berkomunikasi dengan semut melakukan “eksperimen” dengan meletakkan seekor semut dalam sebuah botol dan memintanya berapa banyak makanan yang dibutuhkan untuk bertahan. Si semut menjawab dua butir, maka dia memberikan dua butir, setelah satu tahun semut hanya memakan satu butir.
Sulaiman bertanya kepadanya mengapa tidak menghabiskan semua makanan tersebut? Semut menjawab, ketika dia berjalan karena Allah, dia mengetahui bahwa Allah tidak akan melupakannya, tetapi ketika Sulaiman memberikan makanan, dia mengetahui bahwa dia adalah manusia dan mungkin lupa – maka dia memakan satu butir dan meninggalkan yang lainnya untuk tahun berikutnya.

- Kerjasama team yang rapi
Semut tidak pernah bekerja untuk dirinya sendiri, mereka bekerja untuk tim. Kalau mendapatkan makanan yang ukurannya cocok bagi tubuhnya, biasanya semut membawanya sendirian. Kalau ukuran makanan terlalu besar atau kalau semut menemukan beberapa gundukan kecil makanan di suatu daerah, mereka mengeluarkan hormon beracun untuk mencegah semut lain agar tidak menghampiri daerahnya. Kemudian, mereka memanggil para pekerja lain, besar maupun kecil, untuk bersama-sama mengangkut makanan.
Dalam kehidupannya, semut juga mengenal pembagian tugas yang sangat sempurna. Semut besar memotong-motong makanan dan menjaganya dari hewan-hewan asing, sementara semut kecil membawa pulang makanan.
Berdasarkan pengamatan, ditemukan bahwa jika semut bekerja sama, mereka dapat mengangkat beban seberat 5000 kali berat yang dapat diangkat seekor semut pekerja. Seratus ekor semut dapat membawa seekor cacing besar di atas tanah dan bergerak dengan kecepatan 0,4 cm per detik.

Yuk ah belajar dari semut guna mencapai kesuksesan hidup.

(Sebagian tulisan di atas adalah tulisan Ahmad Arwani)