Kamis, 28 Februari 2008

Lakukanlah!

“Lakukan apa yang dapat Anda lakukan, dengan apa yang Anda miliki dan di tempat Anda berada”, itu adalah salah satu kalimat yang diucapkan Presiden Amerika Serikat yang ke-26, Theodore Roosevelt, yang menjabat di tahun 1901 sampai 1909.
"Lakukan mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, dan mulai dari sekarang", itu adalah salah satu kalimat yang diucapkan Abdullah Gymnastiar atau biasa disebut AA Gym, seorang ustadz terkenal di negeri kita.
Keduanya sama-sama tokoh.
Keduanya sama-sama bijak.
Keduanya sama-sama mengajak kita, ya kita semua, siapapun kita, untuk mulai melakukan sesuatu yang memiliki nilai.
Melakukan sesuatu yang tidak perlu muluk-muluk, cukup apa yang bisa kita lakukan.
Melakukan sesuatu yang tidak perlu besar, cukup dari hal yang kecil.
Melakukan sesuatu yang bisa kita lakukan, tak perlu berusaha menggapai bulan.
Melakukan sesuatu yang bisa menjadi contoh, tak perlu harus disuruh.
Melakukan sesuatu dimana kita biasa berada, jangan tunggu mendapat tempat yang layak.
Melakukan sesuatu saat ini juga, jangan lagi ditunda-tunda.
Ayo, lakukan!

(foto AA Gym dari sini, dan foto Roosevelt dari sini)

Senin, 25 Februari 2008

Memilih Jalan Baru

Ada sebuah kisah menarik yang penulis baca dari sebuah email yang dikirim seorang rekan.
Tersebutlah seorang pria yang bersahabat dengan orang-orang jahat. Ia difitnah oleh teman-temannya sehingga masuk penjara selama bertahun-tahun.
Setelah keluar penjara, keluarganya menganjurkan supaya mencari mereka yang memfitnah dirinya dan mengajukan mereka ke pengadilan. Tetapi pria itu menolak melakukannya, bahkan lebih memilih untuk memaafkannya.
Ia mengatakan bahwa musibah itu terjadi karena kesalahannya sendiri memilih teman-teman yang tidak baik.
Kejadian tragis itu malah memberi peluang baginya untuk memilih jalan hidup baru, yang berbeda dengan sebelumnya, yang justeru lebih baik. Ia membuka lembaga pendidikan kepribadian yang mengajarkan makna memaafkan.
Ia belajar dari pengalaman.
Ia berusaha tegar dengan cara memilih jalan baru.
Ia yakin bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.
Ia sangat yakin bahwa dalam setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.
Ia juga yakin bahwa di balik masalah ada hikmah yang bisa diambil, yang merupakan sikap positif dan sehat.
Hmmm... kalau iya bisa, mengapa aku tidak?

(foto diambil dari sini)

Jumat, 22 Februari 2008

Temukan dan cintai!

Beberapa kali seorang rekan kerja menyampaikan keluhan yang sama: bosan.
Ia bosan dengan pekerjaannya.
Ia mulai tidak menyukai atasannya, dan juga rekan-rekan kerjanya.
Ia benci dengan pekerjaannya.
Ia mengeluhkan suasana tempat kerjanya.
Ia mulai malas datang ke tempat kerjanya.
Dan ia pun mengeluhkan gajinya.

Nampaknya ia lupa bahwa di luar sana masih banyak rekan-rekan kita yang sibuk mencari kerja.
Nampaknya ia tidak sadar bahwa di seberang sana banyak rekan-rekan kita menginginkan berada di ruangan kerja yang nyaman ini.
Nampaknya ia tidak tahu bahwa di perusahaan di luar sana banyak rekan-rekan kita yang rela dibayar berapapun untuk mendapatkan pekerjaan apa saja.

Sepertinya ia perlu diberi saran untuk tetap mencintai pekerjaannya.
Bila tak mungkin mencintai pekerjaannya, barangkali ia perlu mencoba untuk mencintai atasannya dan rekan-rekan kerjanya. Ia perlu membuka inderanya untuk bisa merasakan kegembiraan dari pertemanan itu. Sehingga pekerjaannya akan menjadi menggembirakan.

Sepertinya ia perlu diingatkan untuk mencintai susana kerja dan suasana kantornya, bila untuk mencintai atasan dan rekan-rekan kerjanya adalah hal yang tak mungkin. Barangkali ini akan mendorong gairahnya untuk berangkat kerja dan melakukan tugas dengan lebih baik.

Sepertinya ia perlu mendengar bahwa bila masih juga belum bisa melakukannya, maka ia perlu mencoba untuk mencintai setiap pengalaman selama perjalanan pulang pergi dari dan ke tempat kerja. Barangkali, perjalanan yang menyenangkan akan menjadikan tujuan bekerja menjadi tampak menyenangkan juga.

Sepertinya ia perlu tahu bahwa bila ia tetap tak dapat menemukan cinta di sana, maka ia perlu mencintai apapun dari apa yang ada di sekitarnya atau kerja yang dilakukannya, apakah itu komputernya yang baru, kalendernya yang cantik, makanan di kantin yang enak, seragam kerja yang nyaman dipakai atau bahkan senam pagi yang selalu diadakan sebelum memulai kerja.

Apapun. Bila ia tak menemukan yang bisa ia cintai dari pekerjaannya, tanyakanlah pada diri sendiri: mengapa ada di situ?
Mengapa bukan orang lain yang mengerjakan pekerjaannya?
Tak ada yang lebih indah selain melakukan segala sesuatunya dengan rasa cinta yang tulus.
Tak ada yang lebih baik selain mensyukuri apa yang dimiliki sekarang.
Temukan dan cintai segera!

(Mungkin, hanya mereka yang pernah kehilangan pekerjaannya yang akan merasakan cinta itu!)

Kamis, 21 Februari 2008

Sering Kerja Lembur = Workaholic ?

Beberapa indikasi dari workaholism atau "ketagihan" kerja adalah sering kerja lembur, mengerjakan tugas kantor di rumah, khawatir dipecat karena kurang kerja keras, atau hubungan yang minim dengan keluarga.

Dan contoh yang paling ekstrim dari pekerja workaholic adalah para pegawai di Jepang yang menghabiskan lebih dari 12 jam sehari untuk mengerjakan tugas kantor. Menurut informasi yang ada rata-rata jam kerja pegawai di Jepang memang tertinggi di dunia (2.450 jam per tahun). Padahal katanya, bekerja lebih dari 40 jam per minggu saja sudah bisa diindikasikan sebagai workaholic.

Kelakuan "gila kerja" di Jepang bahkan begitu seriusnya hingga bisa menyebabkan kematian. Mereka menghabiskan berjam-jam mengerjakan tugas kantor sehingga menimbulkan efek samping seperti kelelahan, stres, kurang tidur, serangan jantung, bahkan stroke. Untuk memaksa mereka istirahat, salah satu serikat pekerja bersama manajemen sebuah grup perusahaan elektronik raksasa di Jepang sampai harus mengeluarkan instruksi larangan kerja lembur di setiap hari rabu dan hari gajian. Luar biasa.

Di Indonesia bahkan di Batam, workaholic juga sudah mulai menjadi tren. Kita bisa temui di beberapa kawasan industri besar di Batam, banyak para pekerja yang mesti bekerja sekitar 12 jam sehari. Bahkan terkadang Sabtu dan Minggu pun mesti bekerja. Anda juga salah satunya? Oh no...

Tetapi berbeda dengan di Jepang, di Batam kelakuan "gila kerja" ini bukan karena khawatir dipecat akibat kurang kerja keras, tetapi ini karena gaji yang pas-pasan, sehingga mereka mesti bekerja lembur untuk menambah penghasilan. Kalau tidak lembur, pertengahan bulan seringkali mesti gali lubang tutup lubang, bahkan lebih parah lagi hubungan dengan isteri malah bisa jadi runyam.

Jadi, rupanya ada persamaan antara orang Jepang dan orang Indonesia: sama-sama doyan kerja, yang beda cuma alasannya. Nasib, nasib.

(foto diambil dari sini)

Rabu, 20 Februari 2008

No Shortcut!

Membaca email dari seorang rekan,
tiba-tiba serasa terbangun dari tidur panjang malam itu.
Katanya, keberhasilan tak akan bisa diperoleh begitu saja.
Keberhasilan adalah pohon dari kerja keras.
Maka, tak perlu berharap pada kemujuran.
Karena kemujuran tak jelas datangnya dari mana.

Katanya, biarkan segala sesuatunya berjalan alami.
Berjalan sebagaimana mestinya.
Maka, tak perlu memaksakan diri.
Karena memaksakan diri pun tak pasti apa gunanya.

Katanya, pertumbuhan diri adalah proses mendaki.
Dan mendaki perlu melalui satu persatu anak tangga yang ada.
Maka, tak perlu mencari jalan pintas.
Karena jalan pintas pun tak jelas ada atau tidak.

Katanya, setiap langkah kecil pada kemajuan perlu dihargai.
Menghargai apa yang telah dilalui.
Maka, tak perlu mengharapkan pujian orang lain,
Karena belum tentu mereka akan memuji.

Katanya, tetaplah mengamati jalan lurus di depan.
Melangkah terus, selangkah demi selangkah.
Maka, tak perlu pedulikan kerikil, bebatuan maupun lubang itu.
Karena jalan yang tepat itu adalah jalan yang akan menuntun menuju pencapaian diri sendiri.