Kamis, 28 Mei 2009

Menaikkan laba dengan harga tetap


Siapa yang mau memiliki kegiatan usaha dengan laba yang terus bertambah? Tentu setiap orang akan dengan cepat menyatakan kemauannya. Permasalahannya adalah adakah orang yang berani menawarkan laba yang terus bertambah? Mungkin ini pertanyaan yang salah. Pernyataan yang benar adalah laba yang terus bertambah itu bukan ditawari, tapi mesti dikejar, harus diusahakan.
Menurut wikipedia, laba atau keuntungan dapat didefinisikan dengan dua cara. Laba dalam ilmu ekonomi murni didefinisikan sebagai peningkatan kekayaan seorang investor sebagai hasil penanam modalnya, setelah dikurangi biaya-biaya yang berhubungan dengan penanaman modal tersebut (termasuk di dalamnya, biaya kesempatan). Sementara itu, laba dalam akuntansi didefinisikan sebagai selisih antara harga penjualan dengan biaya produksi. Contoh perhitungan yang sederhana adalah bila harga jual sebuah produk dipatok Rp 1000,- dan ongkos produksinya sebanyak Rp 700,- maka didapatkan laba sebesar Rp 300,-. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah mungkin menaikkan laba dengan tidak menaikkan harga? Tentu saja mungkin. Mengacu kepada definisi tadi, memperbesar laba bisa dilakukan dengan 2 cara yaitu dengan memperbesar harga jual atau dengan memperkecil ongkos produksi.
Adakah dampak dari menaikkan harga jual? Ada, dampak dari kenaikan ini akan dirasakan oleh pelanggan. Sedangkan apabila mengurangi ongkos produksi maka pelanggan tidak akan merasakan dampak apa-apa, hanya sang produsen lah yang perlu bekerja lebih keras dari sebelumnya. Mengingat harga adalah hal yang sangat sensitif bagi konsumen, biasanya kenaikan harga yang tidak bisa diterima dapat membuat pelanggan berpindah ke lain tempat atau lari ke tempat lain.
Dalam sebuah kegiatan usaha yang memiliki proses produksi seperti perakitan, konveksi, percetakan, restauran, rumah makan atau warung kopi dan sejenisnya selalu ada yang kita sebut ongkos produksi yang meliputi biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan sebuah produk, misalnya biaya untuk membeli bahan baku, biaya membeli mesin atau alat, biaya perawatan mesin, biaya bayar listrik, biaya upah pekerja dan sebagainya. Mengurangi ongkos produksi berarti memperkecil biaya-biaya yang dikeluarkan untuk itu. Kita tinggal mengidentifikasi biaya-biaya yang mempengaruhi ongkos produksi. Dari sisi bahan baku, misalnya kita hendak mengurangi biaya bahan baku maka kita bisa melakukan pengambilan bahan baku yang berasal dari 3 atau 4 supplier. Dengan adanya kompetisi antar supplier, bisa jadi harga bahan baku menjadi lebih murah. Melakukan pemeriksaan mutu pada saat barang datang dan pada saat memulai produksi, juga menghindari duit hilang percuma. Memastikan tidak ada kesalahan pemakaian bahan baku sebelum memulai produksi juga tindakan yang bijaksana. Ingat bahwa kecerobohan pemakaian bahan baku yang dapat menyebabkan kesalahan produk berarti biaya besar akan terbuang sia-sia.
Perbaikan dari dalam juga bisa dilakukan dengan cara mengurangi kesalahan yang dibuat oleh para pekerja. Karena kerusakan produk yang lebih sedikit selama proses produksi secara otomatis akan menurunkan biaya yang hilang. Penghematan pemakaian listrik, pemeliharaan yang teratur terhadap mesin-mesin juga bisa dilakukan untuk memperkecil biaya pemakaian listrik. Dalam hal sumber daya manusia, pemberlakuan multi skill (satu orang dapat melakukan beberapa pekerjaan yang berbeda), pengaturan jam kerja yang lebih efektif, serta sistem reward dan bonus diyakini mampu meningkatkan produktifitas para pekerja yang pada gilirannya nanti akan memperkecil ongkos produksi.
Rekan wirausahawan, untuk bertahan hidup atau bahkan untuk tumbuh semakin besar, sebuah usaha harus memiliki laba yang terus bertambah. Maka, menaikkan laba adalah hal terpenting yang terus menerus dilakukan oleh para wirausahawan. Menaikkan harga produk memang bisa menaikkan laba, tapi ini tidak selalu berhasil, salah-salah kita malah kehilangan pelanggan. Menurunkan biaya produksi bisa menjadi pilihan bijak dalam menaikkan laba. Perbaikan yang dilakukan pada sistem kerja, standarisasi cara kerja, mengurangi kesalahan produksi, menghindari kesalahan bahan baku, dan manejemen sumber daya manusia sangat berpotensi menaikkan laba tanpa mengubah harga. Mau mau mau?

Deny Rifa’i
www.kedaidigital.com

Sabtu, 23 Mei 2009

Berkomunikasi dengan Pelanggan


Melalui email, seorang teman bercerita mengenai perilaku salah seorang pelanggannya. Ia merasa shock karena sang pelanggan datang ke kedai tempat jualannya dengan nada tinggi, marah-marah akibat produk yang dibelinya tidak sesuai pesanan. Walaupun sudah disampaikan permintaan maaf berulangkali dan kesediaan sang teman untuk mengganti dengan barang yang baru, tetapi sang pelanggan tetap menunjukkan wajah marahnya. Usut punya usut, ternyata produk yang dibelinya itu diperuntukkan bagi hadiah ulang tahun pacarnya. Ia menjadi naik pitam karena desain produk yang diterimanya tidak sesuai pesanan dan ia kehilangan waktu untuk mencari penggantinya. Namun pada akhirnya, setelah sang manajer kedai menemui sang pelanggan dengan senyum, sikap yang ramah, dan menawarkan pengganti produk yang sama ditambah bonus produk lain, sang pelanggan mau menerimanya bahkan menyampaikan terima kasih disertai senyum yang lebar sebelum pergi.
Cerita tadi tidak lain adalah sebuah contoh gambaran mengenai keluhan pelanggan, yaitu sebuah respon kekecewaan pelanggan terhadap produk yang dibelinya atau jasa yang didapatnya. Dari cerita ini bisa diambil sebuah hikmah bahwa keluhan pelanggan yang tersampaikan merupakan bagian dari komunikasi konsumen kepada produsen, begitu juga sebaliknya, tindakan perbaikan yang diberikan merupakan bagian dari komunikasi produsen kepada konsumen. Adanya keluhan pelanggan yang dijawab dengan tindakan perbaikan menumbuhkan komunikasi dua arah antara konsumen dan produsen. Yaitu sebuah komunikasi yang bisa saling mengisi dan saling menguntungkan kedua belah pihak.
Seorang teman yang membuka usaha distro dengan produk utamanya kaos digital, kaos sablon dan kaos cutting (gabungan sablon manual dan sablon digital) melakukan beberapa hal menarik berikut ini untuk berkomunikasi dengan para pelanggannya:
Pertama, ia membuat website yang berisi gambar dan harga dari produk yang dijualnya. Juga cerita-cerita menarik di sekitar latar belakang munculnya produk atau desain yang dibuatnya. Untuk kebutuhan komunikasi dua arah, web tersebut dilengkapi dengan fasilitas pendaftaran anggota, milis dan sebuah shoutbox untuk menampung komentar, masukan ataupun kritikandari para pelanggan yang sudah bergabung menjadi anggota. Ia juga membuka akun facebook, sebuah situs jejaring sosial yang lagi digandrungi saat ini.
Kedua, menyediakan hotline service, dimana sebuah nomor telepon khusus disediakan untuk menerima order, menerima masukan, bahkan untuk menerima keluhan pelanggan. Secara online, ia juga menyediakan akun Yahoo Messenger yang dibuat untuk tujuan yang sama.
Ketiga, ia merekrut beberapa front officer (FO) dari mahasiswi-mahasiswi berbagai perguruan tinggi dengan kualifikasi yang menarik, murah senyum, ceriwis, dan energik. Ia merancang FO tidak hanya sebagai bagian terdepan yang bertugas untuk menerima order dan membantu pelanggan mendapatkan produk pilihannya, tetapi juga sebagai pintu gerbang untuk terjalinnya komunikasi dua arah. Selain itu, FO bisa bertanya berbagai hal mengenai apa saja yang diinginkan para pelanggan baik jenis kaosnya, warnanya, ukurannya, modelnya, desainnya bahkan rentang harga yang diinginkannya. Iya, FO memiliki multi fungsi, seorang reception, sales/ marketing, juga surveyor.
Keempat, para pelanggan setianya diberi kartu anggota yang juga berfungsi sebagai kartu pengurang harga. Dengan menunjukkan kartu ini, sang pelanggan akan mendapatkan potongan harga khusus. Dan di sisi lain, dengan kartu ini, sang teman memiliki daftar pelanggan setia yang bersedia menerima update produk baru, dan materi promosi lainnya.
Rekan wirausahawan, adanya perbedaan antara produk / jasa yang diinginkan pelanggan dengan produk / jasa yang diterima pada kenyataannya, memang berpotensi memunculkan keluhan pelanggan. Sebagai seorang wirausahawan, keluhan pelanggan ini mesti mampu dikelola sedemikian rupa guna membangun komunikasi dua arah yang nantinya akan bermuara pada pencapaian kepuasan pelanggan, dan pada akhirnya mampu meningkatkan pertumbuhan penjualan dan profit. Jadi, tunggu apa lagi, mari bangun komunikasi untuk kepuasan pelanggan!

Jumat, 15 Mei 2009

Mulai Dari Apa Yang Dimiliki

Kalau kita mengikuti kelas Entrepreneur University, hampir bisa dipastikan bahwa setiap mentor akan menyampaikan begini: “Mulailah berwirausaha dari apa yang Anda miliki”. Mengapa demikian? Karena kalau kita memulai membuka usaha dari apa yang selama ini menjadi hobi, kemampuan atau pengalaman, maka energi yang diperlukan untuk mulai menjalankan usaha itu relatif lebih kecil. Ketertarikan, kemampuan dan pengalaman ternyata menjadi faktor penting dalam dunia wirausaha. Ia bisa menjadi motor penggerak atau bahkan menjadi pelumas bagi berjalan dan berlaricepatnya usaha kita.
Pertanyaannya kemudian adalah hobi apa yang Anda miliki? Kemampuannya apa? Dan berpengalaman kerja sebagai apa? Apapun hobi Anda, mulai dari sekarang harus segera Anda kenali. Karena kalau Anda memiliki hobi, Anda bisa memulai dari hobi Anda itu. Anda hobi memancing misalnya, barangkali Anda bisa mulai membuka toko yang menjual alat-alat pancing.
Begitu juga dengan kemampuan yang Anda miliki, apapun, segeralah Anda kenali dengan baik. Kalau Anda memiliki kemampuan di bidang mekanikal misalnya, mungkin Anda bisa mencoba menawarkan jasa pembuatan jig / fixture untuk mempermudah proses produksi di dalam pabrik.
Bahkan pengalaman Anda bekerja di suatu perusahaan, suatu pabrik atau dimana saja, bisa memberikan Anda ide untuk memulai usaha. Lihat saja, kalau Anda memiliki pengalaman bekerja sebagai seorang sales/marketing, bukankah tidak ada salahnya kalau Anda mencoba membuka usaha sebagai supplier? Apalagi bila Anda tahu betul para pemasok bahan baku, juga bila Anda memiliki daftar lengkap calon pelanggan Anda.
Pada awalnya, saya agak kurang memahami maksud dari pernyataan di atas tetapi walau demikian saya terus berusaha memahaminya. Dan saya juga terus berusaha mencari informasi seberapa banyak di antara teman-teman yang memulai usahanya dari hobi, kemampuan dan pengalaman kerjanya. Ternyata, saya menemukan banyak contoh-contoh menarik. Sebut saja seorang teman yang memiliki kemampuan desain, dan ia berhasil membuka usaha distro dengan hanya mengandalkan kemampuan mendesain. Teman lain yang juga seorang desainer bahkan menjadi langganan tetap sebuah perusahaan rokok ternama untuk mendesainkan iklan-iklannya. Luar biasa kan?
Seorang teman saya yang dulu bekerja di perusahaan yang sama di bagian perawatan komputer baik hardware maupun software, ia kini menerima jasa perawatan komputer. Walaupun ia kerjakan di sela-sela waktu luangnya, saya yakin pendapatannya tidak kalah jauh bila dia harus kerja lembur di perusahaan tempat bekerjanya sekarang ini. Ada lagi seorang teman yang memiliki kemampuan merancang bangunan sipil, sekarang tumbuh menjadi seorang kontraktor bangunan.
Anda suka membaca dan menulis blog? Seorang teman yang suka nge-blog bahkan sekarang sudah bisa mendapatkan dollar dari nge-blog nya itu. Iya, mendapatkan dollar dari dunia internet! Menarik bukan?
Seorang teman yang bekerja di kantor pajak tetapi karena kesukaannya pada dunia fotografi, kini ia sudah punya studio yang menerima jasa pemotretan dan editing video. Seorang tetangga yang suka masak, kini ia banyak menerima order makanan kotak atau makanan ringan dari tetangga sebelah rumahnya bahkan tetangga komplek perumahan di sebelahnya.
Mau contoh yang lain? Seorang teman berlatar belakang akuntansi tetapi karena hobinya bermain musik, ia berhasil memiliki sebuah studio musik. Kini ia tidak perlu lagi jauh-jauh ke studio musik orang lain untuk sekedar latihan bersama-sama teman-teman segrupnya.
Bahkan seorang teman yang sewaktu bekerja sering bertindak sebagai internal trainer, sekarang malah mendirikan sebuah lembaga pendidikan dan sukses!
Rekan wirausahawan, ternyata, sebuah usaha bisa dimulai dari yang ringan-ringan, sebuah hobi, sebuah kemampuan atau pengalaman kerjanya. Contoh nyata adalah mereka-mereka yang sudah disebutkan di atas. Kalau mereka bisa, kita juga tentu bisa!

Minggu, 26 April 2009

Merilis Produk Baru

Kalau kita mau belajar dari perusahaan-perusahaan besar yang membuat dan memasarkan produk-produk yang bisa langsung dipakai oleh masyarakat, maka ada satu hal menarik yang selalu dilakukan oleh mereka, yaitu melepas produk-produk baru secara berkala. Dengan kehadiran produk baru, pasar yang mulai memasuki grafik penjualan yang menurun akan dinaikkan kembali oleh grafik penjualan produk baru sehingga bila grafik penjualan berbentuk parabola dari beberapa produk itu dijajarkan maka akan menyerupai bentuk gunung yang berjajar. Artinya, pendapatan yang mulai menurun dari hasil penjualan produk yang sekarang akan dinaikkan kembali oleh hasil penjualan produk baru.
Mengapa kita mesti menyiapkan dan melepas produk baru? Tentu kita semua bisa memahami bahwa umur suatu produk adalah terbatas, tidak selamanya sebuah produk bisa dipertahankan pada posisi puncak penjualannya. Sebuah handphone misalnya, walaupun sebuah model sempat booming pada peluncuran perdananya, tentu suatu saat penjualannya akan menurun bila produk baru dengan fitur yang lebih baik telah muncul dan dilepas ke pasar. Begitu pula dengan sebuah restoran cepat saji, ia pun selalu harus berusaha membuat menu baru walau hanya berubah pada rasa atau bahkan pada cara memasaknya.
Contoh lain adalah sebuah toko yang menyediakan berbagai souvenir, tentu akan mengalami kesulitan menambah penjualan kalau tidak berupaya menambah varian souvenirnya. Jangan-jangan, pelanggan akan berkomentar: ”Itu lagi, itu lagi, bosan ah”... Sebuah kedai yang menjual beraneka ragam jenis pakaian, tentu juga harus konsisten meng-update model-modelnya kalau tidak mau dibilang ketinggalan jaman. Bahkan sebuah usaha bakery sekalipun, menurut hemat saya perlu untuk membuat terobosan-terobosan baru pada produknya. Bermacam terobosan seperti variasi warna, variasi bentuk dan variasi rasa nampaknya perlu dicoba, diteliti dan dikembangkan.
Berikut ini adalah beberapa langkah kecil yang perlu dilakukan sebelum kita merilis produk baru ke pasar.
Pertama, pelajari tren pasar saat ini atau apa yang diinginkan pasar. Lihat parameter bentuk, warna, ukuran, jumlah, rasa, packaging (bungkusnya), bahan baku dan sebagainya, kemudian kembangkan berbagai varian dari parameter tersebut. Tentukan dan buat produk baru dari hasil pengembangan beberapa parameter tadi.
Kedua, pastikan ketersedian pasokan bahan baku. Karena kalau produk baru sudah dilepas ternyata mendapat tanggapan yang bagus dari pasar, maka kelangsungan pasokan produk baru mesti bisa dijaga. Untuk ini, akan lebih baik bila supplier pemasok bahan baku bisa lebih dari satu.
Ketiga, hitung biaya yang muncul untuk merilis produk baru ini yang meliputi biaya material atau bahan baku maupun biaya penambahan tenaga kerja ataupun pengadaan mesin baru bila ada. Tentukan juga berapa besar margin yang akan diperoleh dari setiap satuan produk baru ini. Dengan demikian, berapa modal yang diperlukan dan berapa lama akan kembali bisa diprediksi.
Keempat, siapkan promosi yang mengguncang pasar. Gunakan bahasa-bahasa iklan yang mengundang perhatian. Bila menggunakan media koran, brosur atau spanduk, minta kepada desainernya untuk membuat desain iklan dengan ide yang paling ciamik.
Kelima, lakukan sekarang juga. Mulai dari perubahan yang kecil tetapi memberikan nuansa baru dari produk Anda. Dan lakukan oleh Anda sendiri.
Semoga berhasil.

Senin, 20 April 2009

MENAMBAH KETRAMPILAN DAN KEMAMPUAN BURUH DI BATAM

1 Mei sudah di ambang pintu. Hari buruh sudah akan kembali dirayakan. Sebagaimana biasa, nampaknya para buruh di Batam akan kembali menyuarakan tuntutan pemenuhan hak-hak mereka. Upah layak bisa jadi masih akan menjadi issue sentral. Penghapusan outsourcing dan karyawan kontrak mungkin juga masih akan mendominasi issue perayaan hari buruh tahun ini.

Berbicara Batam memang tidak akan pernah lepas dari issue buruh maupun issue pengusaha, kepentingan buruh dan kepentingan pengusaha. Daya tarik investasi di Batam saja seringkali dirangsang dengan jargon upah murah di Batam! Jadi, jangan salahkan siapapun kalau kemudian di Batam ternyata betul bahwa upah buruhnya murah, lah wong setingan awalnya memang demikian. Berbicara upah buruh di Batam, tentu akan membuat buruh, pengusaha dan pemerintah dipaksa untuk kembali memasuki forum diskusi yang panjang dan melelahkan.

Saya sih bingung saja, mengapa besaran upah selalu menjadi topik utama diskusi tahunan antara ketiga pihak tadi. Kenapa pengusaha tidak berpikir dan berusaha untuk bagaimana produksinya terus bertambah dan profit yang didapat juga semakin tinggi? Why buruh tidak menitikberatkan kepada kegiatan dan upaya menambah pengetahuan, ketrampilan dan kemampuannya sehingga mampu mengerjakan tugas yang diembannya sebaik-baiknya? Mengapa juga pemerintah tidak berusaha berada pada posisi tengah, mempermudah perijinan usaha, mengurangi biaya siluman, memberikan insentif pajak bagi pengusaha, di samping juga berupaya mengendalikan harga sembako, menyediakan transportasi dan perumahan murah, juga menyiapkan pendidikan dan kesehatan gratis bagi masyarakat pekerja?

Apa yang bisa dilakukan pengusaha untuk menjadikan pulau Batam sebagai ladang pertanian yang subur bagi usahanya, biarlah menjadi urusan pengusaha.

Apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk menjadikan pulau Batam sebagai surga bagi para investor dan para pekerjanya, biarlah menjadi urusan pemerintah.

Sebagai bagian dari pekerja, saya hanya ingin sekedar urun pendapat soal bagaimana baiknya pekerja itu berupaya.

Bagi saya simple saja, kalau memang upah yang lebih besar yang diinginkan, maka menambah ketrampilan dan menambah kemampuan sehingga dapat melaksanakan tugas dan menyelesaikan tanggungjawabnya sebagai pekerja adalah kuncinya.

Upah akan berbanding lurus dengan kinerja. Ketrampilan yang tinggi, kemampuan yang mumpuni bisa menjadi bekal yang cukup untuk mendapatkan upah yang lebih baik.

Untuk itu, kemampuan berbahasa asing, kemampuan berkomunikasi, kemampuan melakukan presentasi dan kemampuan menyelesaikan hal administratif mesti ditingkatkan. Kemampuan bekerjasama dalam tim dan kemampuan memimpin kudu terus diasah. Ketrampilan teknis di bidang elektronika dan mekanikal harus terus ditambah. Kursus welding, kursus elektrikal, kursus PLS, kursus pemrograman komputer, kursus mekanikal, kursus painting, kursus inspeksi mutu dan yang lainnya yang menunjang pekerjaan kita mesti dijadwalkan untuk diikuti.

Para pemimpin buruh mungkin bisa membantu anggota serikat pekerjanya untuk mendesak pemerintah menyediakan pendidikan atau kursus yang murah yang dapat diikuti oleh banyak pekerja. Pemerintah bisa didorong untuk mendayagunakan Balai Latihan Kerja. Pemerintah bisa juga diajak untuk menghidupkan Skill Development Center yang mungkin ada di Batam. Bahkan pemerintah bisa dimintai tolong untuk menghimbau swasta untuk menyelenggarakan program pendidikan dan kursus yang dapat meningkatkan ketrampilan dan kemampuan buruh di Batam. Para pengusaha bisa dimintai bantuan oleh pemerintah untuk menyumbangkan mesin-mesin produksi yang sudah tidak digunakan lagi untuk disumbangkan kepada lembaga-lembaga pendidikan ketrampilan untuk pekerja.

Kalau lembaga pendidikan ketrampilan pekerja menjamur, peralatan dan mesin-mesin untuk praktek pun semakin lengkap, dan para pekerja dapat mengikuti berbagai pendidikan dan kursus ketrampilan ini, bisa diyakini bahwa para pekerja di Batam akan sangat terampil. Ini berarti permasalahan produksi di pabrik sehari-hari akan jauh berkurang. Pada gilirannya nanti, produktifitas dan efisiensi akan sangat tinggi yang kemudian berpengaruh kepada profit yang tinggi bagi pengusaha. Ujung-ujungnya, tentu pengusaha tidak akan keberatan kalau upah diberikan sesuai dengan kebutuhan hidup layak.

Bagaimana menurut anda?