Selasa, 22 September 2009

Senin, 31 Agustus 2009

Bisnis Paruh Waktu atau Full Time?

Bagi sebagian besar karyawan atau pegawai yang ingin memulai bisnis, salah satu pertanyaan yang akan dihadapi adalah: Mau menjalankannya secara paruh waktu atau full time? Secara paruh waktu berarti menjalankan bisnisnya di waktu luang di luar waktu produktifnya, sebaliknya menjalankan bisnis secara full time berarti menggunakan waktu produktifnya dari pagi sampai sore untuk secara sungguh-sungguh menjalankan bisnisnya. Kenyataannya, ada banyak di antara mereka yang memutuskan menjalankan bisnis pertamanya dengan cara paruh waktu, tetapi juga tidak sedikit yang nekat keluar dari pekerjaan yang ditekuninya selama ini dan menjalankan bisnis pertamanya secara full time.
Sampai di sini, tentu kita bertanya mengapa ada yang menjalankan bisnis dengan paruh waktu? Pertama, dengan paruh waktu maka waktu luang yang kita miliki menjadi produktif karena bisnis dimulai setelah selesai pekerjaan yang utama. Namun harus disadari bahwa waktu yang produktif ini berkonsekuensi menghilangkan waktu untuk berkumpul bersama kawan lama, berolahraga atau kegiatan sosial lainnya.
Kedua, ibarat menaruh telur di beberapa keranjang, memulai bisnis dengan paruh waktu berarti memahami betul perlunya memiliki sumber pendapatan yang berbeda dari yang sekarang. Artinya juga, mereka mencoba mengantisipasi kemungkinan adanya ancaman PHK, pensiun, gangguan kesehatan dan sebagainya.
Ketiga, memulai bisnis paruh waktu yang berbeda dengan bisnis yang dijalankan di tempat bekerja sekarang berarti meminimalisir konflik kepentingan yang mungkin terjadi. Contoh bisnis seperti menjadi agen pulsa telepon, membuat snack atau makanan kecil, dan retail atau penjualan secara langsung sangatlah berbeda dengan pekerjaan yang dilakukan di perusahaan asing di Tanjung Uncang ataupun di dalam pabrik di Mukakuning.
Keempat, bila bisnisnya adalah bisnis keluarga maka akan diperoleh keuntungan ganda. Anggota keluarga yang lain dapat menjalankan bisnis selagi Anda bekerja, dan bisa saling menggantikan. Bahkan Anda bisa mulai mengenalkan dan mengajarkan pentingnya membangun bisnis keluarga kepada anak-anak Anda.
Wah, menarik sekali kan. Tetapi ada aksi maka ada reaksi, ada positif maka ada negatif. Di samping ada keuntungan menarik sebagaimana disebutkan tadi, menjalankan bisnis paruh waktu juga memberikan dampak yang cukup mengganggu. Pertama, Anda bisa dianggap tidak fair oleh atasan atau bos Anda karena mungkin suatu saat Anda mesti ijin meninggalkan pekerjaan Anda guna mengurusi bisnis paruh waktu Anda. Ingat bahwa menjalankan bisnis sendiri berarti ada komitmen dan tanggungjawab. Jadi bila suatu saat Anda sudah memberi janji untuk melakukan produksi dan pengantaran dan pada saatnya ternyata orang yang Anda serahi tugas tidak dapat menjalankannya, tentu Anda harus mengambilh alih bukan?
Kedua, bila bisnis Anda sama atau mendekati bisnis perusahaan tempat Anda bekerja, maka potensi untuk saling berkompetisi sangatlah besar. Apa yang akan Anda rasakan sebagai atasan bila bawahan Anda memiliki bisnis yang sama dengan Anda?
Ketiga, berbisnis sambil bekerja berarti pula waktu kerja yang bertambah. Bisa jadi bekerja yang berlebihan akan menimbulkan dampak bagi mental maupun fisik. Yang pada gilirannya dapat mempengaruhi performa pekerjaan maupun bisnis Anda.
Rekan-rakan wirausahawan, pilihan kembali kepada Anda, mau memulai bisnis dengan penuh waktu atau paruh waktu? Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Semoga berhasil.

Kamis, 28 Mei 2009

Menaikkan laba dengan harga tetap


Siapa yang mau memiliki kegiatan usaha dengan laba yang terus bertambah? Tentu setiap orang akan dengan cepat menyatakan kemauannya. Permasalahannya adalah adakah orang yang berani menawarkan laba yang terus bertambah? Mungkin ini pertanyaan yang salah. Pernyataan yang benar adalah laba yang terus bertambah itu bukan ditawari, tapi mesti dikejar, harus diusahakan.
Menurut wikipedia, laba atau keuntungan dapat didefinisikan dengan dua cara. Laba dalam ilmu ekonomi murni didefinisikan sebagai peningkatan kekayaan seorang investor sebagai hasil penanam modalnya, setelah dikurangi biaya-biaya yang berhubungan dengan penanaman modal tersebut (termasuk di dalamnya, biaya kesempatan). Sementara itu, laba dalam akuntansi didefinisikan sebagai selisih antara harga penjualan dengan biaya produksi. Contoh perhitungan yang sederhana adalah bila harga jual sebuah produk dipatok Rp 1000,- dan ongkos produksinya sebanyak Rp 700,- maka didapatkan laba sebesar Rp 300,-. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah mungkin menaikkan laba dengan tidak menaikkan harga? Tentu saja mungkin. Mengacu kepada definisi tadi, memperbesar laba bisa dilakukan dengan 2 cara yaitu dengan memperbesar harga jual atau dengan memperkecil ongkos produksi.
Adakah dampak dari menaikkan harga jual? Ada, dampak dari kenaikan ini akan dirasakan oleh pelanggan. Sedangkan apabila mengurangi ongkos produksi maka pelanggan tidak akan merasakan dampak apa-apa, hanya sang produsen lah yang perlu bekerja lebih keras dari sebelumnya. Mengingat harga adalah hal yang sangat sensitif bagi konsumen, biasanya kenaikan harga yang tidak bisa diterima dapat membuat pelanggan berpindah ke lain tempat atau lari ke tempat lain.
Dalam sebuah kegiatan usaha yang memiliki proses produksi seperti perakitan, konveksi, percetakan, restauran, rumah makan atau warung kopi dan sejenisnya selalu ada yang kita sebut ongkos produksi yang meliputi biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan sebuah produk, misalnya biaya untuk membeli bahan baku, biaya membeli mesin atau alat, biaya perawatan mesin, biaya bayar listrik, biaya upah pekerja dan sebagainya. Mengurangi ongkos produksi berarti memperkecil biaya-biaya yang dikeluarkan untuk itu. Kita tinggal mengidentifikasi biaya-biaya yang mempengaruhi ongkos produksi. Dari sisi bahan baku, misalnya kita hendak mengurangi biaya bahan baku maka kita bisa melakukan pengambilan bahan baku yang berasal dari 3 atau 4 supplier. Dengan adanya kompetisi antar supplier, bisa jadi harga bahan baku menjadi lebih murah. Melakukan pemeriksaan mutu pada saat barang datang dan pada saat memulai produksi, juga menghindari duit hilang percuma. Memastikan tidak ada kesalahan pemakaian bahan baku sebelum memulai produksi juga tindakan yang bijaksana. Ingat bahwa kecerobohan pemakaian bahan baku yang dapat menyebabkan kesalahan produk berarti biaya besar akan terbuang sia-sia.
Perbaikan dari dalam juga bisa dilakukan dengan cara mengurangi kesalahan yang dibuat oleh para pekerja. Karena kerusakan produk yang lebih sedikit selama proses produksi secara otomatis akan menurunkan biaya yang hilang. Penghematan pemakaian listrik, pemeliharaan yang teratur terhadap mesin-mesin juga bisa dilakukan untuk memperkecil biaya pemakaian listrik. Dalam hal sumber daya manusia, pemberlakuan multi skill (satu orang dapat melakukan beberapa pekerjaan yang berbeda), pengaturan jam kerja yang lebih efektif, serta sistem reward dan bonus diyakini mampu meningkatkan produktifitas para pekerja yang pada gilirannya nanti akan memperkecil ongkos produksi.
Rekan wirausahawan, untuk bertahan hidup atau bahkan untuk tumbuh semakin besar, sebuah usaha harus memiliki laba yang terus bertambah. Maka, menaikkan laba adalah hal terpenting yang terus menerus dilakukan oleh para wirausahawan. Menaikkan harga produk memang bisa menaikkan laba, tapi ini tidak selalu berhasil, salah-salah kita malah kehilangan pelanggan. Menurunkan biaya produksi bisa menjadi pilihan bijak dalam menaikkan laba. Perbaikan yang dilakukan pada sistem kerja, standarisasi cara kerja, mengurangi kesalahan produksi, menghindari kesalahan bahan baku, dan manejemen sumber daya manusia sangat berpotensi menaikkan laba tanpa mengubah harga. Mau mau mau?

Deny Rifa’i
www.kedaidigital.com

Sabtu, 23 Mei 2009

Berkomunikasi dengan Pelanggan


Melalui email, seorang teman bercerita mengenai perilaku salah seorang pelanggannya. Ia merasa shock karena sang pelanggan datang ke kedai tempat jualannya dengan nada tinggi, marah-marah akibat produk yang dibelinya tidak sesuai pesanan. Walaupun sudah disampaikan permintaan maaf berulangkali dan kesediaan sang teman untuk mengganti dengan barang yang baru, tetapi sang pelanggan tetap menunjukkan wajah marahnya. Usut punya usut, ternyata produk yang dibelinya itu diperuntukkan bagi hadiah ulang tahun pacarnya. Ia menjadi naik pitam karena desain produk yang diterimanya tidak sesuai pesanan dan ia kehilangan waktu untuk mencari penggantinya. Namun pada akhirnya, setelah sang manajer kedai menemui sang pelanggan dengan senyum, sikap yang ramah, dan menawarkan pengganti produk yang sama ditambah bonus produk lain, sang pelanggan mau menerimanya bahkan menyampaikan terima kasih disertai senyum yang lebar sebelum pergi.
Cerita tadi tidak lain adalah sebuah contoh gambaran mengenai keluhan pelanggan, yaitu sebuah respon kekecewaan pelanggan terhadap produk yang dibelinya atau jasa yang didapatnya. Dari cerita ini bisa diambil sebuah hikmah bahwa keluhan pelanggan yang tersampaikan merupakan bagian dari komunikasi konsumen kepada produsen, begitu juga sebaliknya, tindakan perbaikan yang diberikan merupakan bagian dari komunikasi produsen kepada konsumen. Adanya keluhan pelanggan yang dijawab dengan tindakan perbaikan menumbuhkan komunikasi dua arah antara konsumen dan produsen. Yaitu sebuah komunikasi yang bisa saling mengisi dan saling menguntungkan kedua belah pihak.
Seorang teman yang membuka usaha distro dengan produk utamanya kaos digital, kaos sablon dan kaos cutting (gabungan sablon manual dan sablon digital) melakukan beberapa hal menarik berikut ini untuk berkomunikasi dengan para pelanggannya:
Pertama, ia membuat website yang berisi gambar dan harga dari produk yang dijualnya. Juga cerita-cerita menarik di sekitar latar belakang munculnya produk atau desain yang dibuatnya. Untuk kebutuhan komunikasi dua arah, web tersebut dilengkapi dengan fasilitas pendaftaran anggota, milis dan sebuah shoutbox untuk menampung komentar, masukan ataupun kritikandari para pelanggan yang sudah bergabung menjadi anggota. Ia juga membuka akun facebook, sebuah situs jejaring sosial yang lagi digandrungi saat ini.
Kedua, menyediakan hotline service, dimana sebuah nomor telepon khusus disediakan untuk menerima order, menerima masukan, bahkan untuk menerima keluhan pelanggan. Secara online, ia juga menyediakan akun Yahoo Messenger yang dibuat untuk tujuan yang sama.
Ketiga, ia merekrut beberapa front officer (FO) dari mahasiswi-mahasiswi berbagai perguruan tinggi dengan kualifikasi yang menarik, murah senyum, ceriwis, dan energik. Ia merancang FO tidak hanya sebagai bagian terdepan yang bertugas untuk menerima order dan membantu pelanggan mendapatkan produk pilihannya, tetapi juga sebagai pintu gerbang untuk terjalinnya komunikasi dua arah. Selain itu, FO bisa bertanya berbagai hal mengenai apa saja yang diinginkan para pelanggan baik jenis kaosnya, warnanya, ukurannya, modelnya, desainnya bahkan rentang harga yang diinginkannya. Iya, FO memiliki multi fungsi, seorang reception, sales/ marketing, juga surveyor.
Keempat, para pelanggan setianya diberi kartu anggota yang juga berfungsi sebagai kartu pengurang harga. Dengan menunjukkan kartu ini, sang pelanggan akan mendapatkan potongan harga khusus. Dan di sisi lain, dengan kartu ini, sang teman memiliki daftar pelanggan setia yang bersedia menerima update produk baru, dan materi promosi lainnya.
Rekan wirausahawan, adanya perbedaan antara produk / jasa yang diinginkan pelanggan dengan produk / jasa yang diterima pada kenyataannya, memang berpotensi memunculkan keluhan pelanggan. Sebagai seorang wirausahawan, keluhan pelanggan ini mesti mampu dikelola sedemikian rupa guna membangun komunikasi dua arah yang nantinya akan bermuara pada pencapaian kepuasan pelanggan, dan pada akhirnya mampu meningkatkan pertumbuhan penjualan dan profit. Jadi, tunggu apa lagi, mari bangun komunikasi untuk kepuasan pelanggan!

Jumat, 15 Mei 2009

Mulai Dari Apa Yang Dimiliki

Kalau kita mengikuti kelas Entrepreneur University, hampir bisa dipastikan bahwa setiap mentor akan menyampaikan begini: “Mulailah berwirausaha dari apa yang Anda miliki”. Mengapa demikian? Karena kalau kita memulai membuka usaha dari apa yang selama ini menjadi hobi, kemampuan atau pengalaman, maka energi yang diperlukan untuk mulai menjalankan usaha itu relatif lebih kecil. Ketertarikan, kemampuan dan pengalaman ternyata menjadi faktor penting dalam dunia wirausaha. Ia bisa menjadi motor penggerak atau bahkan menjadi pelumas bagi berjalan dan berlaricepatnya usaha kita.
Pertanyaannya kemudian adalah hobi apa yang Anda miliki? Kemampuannya apa? Dan berpengalaman kerja sebagai apa? Apapun hobi Anda, mulai dari sekarang harus segera Anda kenali. Karena kalau Anda memiliki hobi, Anda bisa memulai dari hobi Anda itu. Anda hobi memancing misalnya, barangkali Anda bisa mulai membuka toko yang menjual alat-alat pancing.
Begitu juga dengan kemampuan yang Anda miliki, apapun, segeralah Anda kenali dengan baik. Kalau Anda memiliki kemampuan di bidang mekanikal misalnya, mungkin Anda bisa mencoba menawarkan jasa pembuatan jig / fixture untuk mempermudah proses produksi di dalam pabrik.
Bahkan pengalaman Anda bekerja di suatu perusahaan, suatu pabrik atau dimana saja, bisa memberikan Anda ide untuk memulai usaha. Lihat saja, kalau Anda memiliki pengalaman bekerja sebagai seorang sales/marketing, bukankah tidak ada salahnya kalau Anda mencoba membuka usaha sebagai supplier? Apalagi bila Anda tahu betul para pemasok bahan baku, juga bila Anda memiliki daftar lengkap calon pelanggan Anda.
Pada awalnya, saya agak kurang memahami maksud dari pernyataan di atas tetapi walau demikian saya terus berusaha memahaminya. Dan saya juga terus berusaha mencari informasi seberapa banyak di antara teman-teman yang memulai usahanya dari hobi, kemampuan dan pengalaman kerjanya. Ternyata, saya menemukan banyak contoh-contoh menarik. Sebut saja seorang teman yang memiliki kemampuan desain, dan ia berhasil membuka usaha distro dengan hanya mengandalkan kemampuan mendesain. Teman lain yang juga seorang desainer bahkan menjadi langganan tetap sebuah perusahaan rokok ternama untuk mendesainkan iklan-iklannya. Luar biasa kan?
Seorang teman saya yang dulu bekerja di perusahaan yang sama di bagian perawatan komputer baik hardware maupun software, ia kini menerima jasa perawatan komputer. Walaupun ia kerjakan di sela-sela waktu luangnya, saya yakin pendapatannya tidak kalah jauh bila dia harus kerja lembur di perusahaan tempat bekerjanya sekarang ini. Ada lagi seorang teman yang memiliki kemampuan merancang bangunan sipil, sekarang tumbuh menjadi seorang kontraktor bangunan.
Anda suka membaca dan menulis blog? Seorang teman yang suka nge-blog bahkan sekarang sudah bisa mendapatkan dollar dari nge-blog nya itu. Iya, mendapatkan dollar dari dunia internet! Menarik bukan?
Seorang teman yang bekerja di kantor pajak tetapi karena kesukaannya pada dunia fotografi, kini ia sudah punya studio yang menerima jasa pemotretan dan editing video. Seorang tetangga yang suka masak, kini ia banyak menerima order makanan kotak atau makanan ringan dari tetangga sebelah rumahnya bahkan tetangga komplek perumahan di sebelahnya.
Mau contoh yang lain? Seorang teman berlatar belakang akuntansi tetapi karena hobinya bermain musik, ia berhasil memiliki sebuah studio musik. Kini ia tidak perlu lagi jauh-jauh ke studio musik orang lain untuk sekedar latihan bersama-sama teman-teman segrupnya.
Bahkan seorang teman yang sewaktu bekerja sering bertindak sebagai internal trainer, sekarang malah mendirikan sebuah lembaga pendidikan dan sukses!
Rekan wirausahawan, ternyata, sebuah usaha bisa dimulai dari yang ringan-ringan, sebuah hobi, sebuah kemampuan atau pengalaman kerjanya. Contoh nyata adalah mereka-mereka yang sudah disebutkan di atas. Kalau mereka bisa, kita juga tentu bisa!