
Di Jepang, apabila terjadi gangguan yang menyebabkan kenyamanan pelanggan ataupun masyarakat banyak menjadi terusik, pimpinan tertinggi perusahaan penyedia layanan tersebut akan meminta maaf di depan publik yang diliput oleh jaringan media massa dengan cara yang amat simpatik. Dengan berdiri tegak mereka akan meminta maaf dengan bahasa yang paling sopan dan kemudian membungkukkan badannya pun dengan tingakatan yang amat sopan. Kemudian mereka akan menjelaskan penyebab gangguan dengan detail dan akibat yang terjadi. Juga langkah-langkah yang akan diambil kemudian sebagai bentuk tanggungjawabnya, termasuk langkah perbaikan untuk mencegah terulangnya kembali hal tersebut. Dengan demikian, masyarakat umum akan bersimpati dan kemudian memaklumi kejadian tersebut.
Budaya malu adalah yang melatarbelakangi mengapa mereka bersikap demikian, sebuah budaya leluhur dan turun temurun dari bangsa Jepang. Masih ingat ritual sejak era samurai yang bernama Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) ketika mereka kalah dalam pertempuran. Saat ini ritual harakiri memang sudah mulai berubah. Memasuki dunia modern, muncul fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat publik (menteri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka tidak dapat menyediakan layanan publik dengan baik, mengganggu atau bahkan merugikan orang banyak, melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.
Andaikan budaya malu menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia, alangkah indahnya. Tentu akan membuat hidup lebih hidup!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar